Puncak kebahagian manusia menurut Suryomentaram, yaitu
ketika manusia tidak memiliki ciri lagi atau bersikap altruisme: mementingkan
kepentingan orang lain (liyan) di
atas kepentingannya sendiri. Manusia yang sudah terbebas dari ego, sehingga
cintanya (sih) tak lagi terbatas. Pada
puncak itu, manusia menjadi tuan bagi dirinya sendiri.
Tahap
demi tahap untuk mencapai puncak tertinggi dari kabahagian manusia dituangkan
oleh Suryomentaram dalam Kawruh Jiwa, berangkat
dari kegelisahan Suryomentaram tentang “siapa manusia sesungguhnya?” Pertanyaan
itulah yang selalu melekat di dalam dirinya ketika ia masih remaja. Bahkan pertanyaan
yang sama masih ia tanyakan, sampai kelak, ketika ia tumbuh menjadi dewasa.
Selanjutnya
uraian singkat tentang pemikiran Suryomentaram, saya rujuk dari buku “Psiksologi
Raos Saintifikasi Kawruh Jiwa Ki Ageng
Suryomentaram” yang ditulis oleh Ryan Sugiarto (alumnus Fakultas Psikologi
UGM).
Suryomentaram
dilahirkan sebagai pangeran (putra Sultan Hamengku Buwono VI), menjadi pangeran
yang serba berkecukupan ternyata tidak membuat hati Suryomentaram bahagia. Ia gelisah
mempertanyakan hakikat kebahagian. Kabur dari keraton dan mengembara sampai ke
pelosok-pelosok desa, merentangkan pengalamannya melampaui adat keraton yang
ketat. Dalam pengembaraannya, ia pernah
berdagang di pasar dan juga pernah bekerja sebagai penggali sumur. Semua
dilakukan untuk mencari hakikat kebahagiaan dan menemukan jawaban atas
perntanyaanya: siapa sesungguhnya manusia itu?
Perjalanan
hidupnya adalah laku mengumpulkan pengetahuan, sesuai pepatah Jawa ilmu iku kelakone kanthi laku.
Kegelisahan Suryomentaram untuk mencari hakikat manusia serupa kaum filsuf atau
memang ia seorang filsuf? Bagamaina pun ajaran Suryomentaram menganjurkan kebijaksanaan.
Ketika
tinggal di Yogyakarta, bersama Ki Hajar Dewantara, dia mengadakan diskusi
rutinan mengenai pendidikan, bahkan Taman Siswa didirikan di rumahnya. Ki Hajar
Dewantara kebagian tugas mengajar anak-anak dan remaja usia sekolah. Sementara
Suryomentaram kebagian tugas mengajar para orangtua.
Kebutuhan
pengetahuan para orangtua dan anak-anak seusia sekolah tentu berbeda, para
orangtua lebih tertarik mempelajari hakikat kehidupan. Kawruh Jiwa adalah salah satu dokumen penting yang pernah ditulis
olehnya. Buku yang menganalisa sudut terdalam dari diri manusia, terutama
mengenai “sih”.
Tujuan
perkembangan jiwa manusia menurut Suryomentaram yaitu untuk menjadi manusia
seutuhnya. Manusia yang utuh ialah manusia yang berhasil mengalami pencerahan. Menurut
rumusan Suryomentara tahap-tahap untuk mencapai manusia yang seutuhnya harus
melewati empat dimensi.
Empat
dimensi itu di antaranya, (1) sebagai juru catat,(2) kumpulan catatan, (3) ke-aku-an
atau Kradamangsa, (4) dan manusia
tanpa ciri. Empat dimensi ini harus betul-betul diketahui agar seseorang
menjadi manusia seutuhnya.
Pada
dimensi 1, manusia masih sekadar mempunyai rasa ingin tetapi ingin-nya tersebut belum sampai termanifestasikan. Seperti bayi yang
baru lahir, bayi yang baru lahir sudah mampu merasakan apa-apa, namun anggota
badannya belum sanggup bereaksi menurut keinginan dan perasaannya. Secara
naluriah bayi manusia tersebut adalah pencatat atau perekam atas pengalaman-pengalaman.
Sementara
tahap selajutnya, dimensi 2, manusia yang menyimpan kumpulan catatan. Kumpulan
cacatan tersebut berupa; rekaman peristiwa hidup. Catatan-catatan ini menjadi
modal penting bagi manusia untuk menemukan “aku”nya atau identitas. Karena pada
dimensi 2 ini manusia sudah mempunyai “identitas” maka ia mulai memahami
dirinya dan lingkungan. Dan menyadari bahwa ia berbeda dengan yang lain. Pada dimenasi
manusia mempunyai kesadaran mengenai keluarga, rumah, lingkungan, dan tempat
tinggalnya.
Ukuran
selanjutnya yaitu dimensi 3, manusia yang sudah menemukan ke-aku-annya. Dimensi
3 ialah tahap seseorang mulai berpikir. Pada tahap ini manusia menggunakan
rasionalitasnya. Ke-aku-an oleh Suryomentaram disebut juga Kradamangsa.
Kradamangsa terbentuk sejak ‘aku’ (kecil) manunggal dengan Kradamangsa.
Biasanya sejak umur dua atau tiga tahun. Sebelum ‘aku’ (kecil) manunggal dengan
Kradamangsa, anak-anak menyebut dirinya tidak dengan ‘aku’, tetapi menyebut
namanya. Sebelum Kradamangsa terbentuk anak sudah mempunyai catatan namun cara
menanggapi catatan masih sering salah.
Ke-aku-anlah
yang memikirkan catatan-catatan dalam dimensi 2, untuk bergerak ke dimensi 3.
Jika dimensi 3 ini dipuaskan, manusia akan berada pada dimensi ini terus, sebab
ke-aku-an bersifat “selalu ingin”. Suryomentaram mengklaim bahwa berpikir
justru merintangi kebebasan manusia. Yang dimaksud dengan berpikir merintangi
kebebasan manusia ialah membebaskan pikiran dari rasa ke-aku-an. Bukan melarang
manusia untuk berpikir.
Menurut Suryomentaram, tumbuhnya rasa ke-aku-an subjektif menjadikan diri
sebagai buruh dari beragam catatan-catatan dan rekaman yang disenangi. Sehingga
catatan-catatan atau rekaman yang disenangi akan memperbudak “aku” subjektif. Hal itu karena dalam tahap ke-aku-an
penggerak utamanya adalah “keinginan”.
Selain
itu, ke-aku-an memandang interaksi sosial atau masyarakat atau orang lain
sebagai cermin. Sifat dari ke-aku-an adalah mendorong manusia untuk mencari
kenyamanan diri sendiri tanpa mempertimbangkan atau peduli kepada orang lain
sehingga membuat manusia bertindak sewenang-wenang. Sementara untuk melepaskannya “aku sejati” dari ke-aku-an maka manusia harus bergerak menuju
dimensi 4 dan memperoleh sih . Jalan
menuju dimensi 4 yaitu “mawas diri”. Mawas diri ialah metode untuk memahami
keadaan dirinya yang sejujur-jujurnya.
Dengan
mawas diri manusia akan mengetahui rasa yang muncul dari catatan-catatan.
Antara “aku sejati” dan “ke-aku-an”, Suryomentaram menyebutnya sebagai jalan
simpang tiga, yang satu menuju “ke-aku-an”, sementara yang satunya lagi menuju ‘manusia
tanpa ciri’. Maka manusia harus memilih jalan yang menuju “manusia tanpa ciri”.
Dengan begitu rasa ke-aku-nya akan hilang, dan ia menjadi tuan bagi dirinya
sendiri, bukan tuan dari catantan-catatannya.
No comments:
Post a Comment