14 November 2016

Manusia Jawa

Puncak kebahagian manusia menurut Suryomentaram, yaitu ketika manusia tidak memiliki ciri lagi atau bersikap altruisme: mementingkan kepentingan orang lain (liyan) di atas kepentingannya sendiri. Manusia yang sudah terbebas dari ego, sehingga cintanya (sih) tak lagi terbatas. Pada puncak itu, manusia menjadi tuan bagi dirinya sendiri.

Tahap demi tahap untuk mencapai puncak tertinggi dari kabahagian manusia dituangkan oleh Suryomentaram dalam Kawruh Jiwa, berangkat dari kegelisahan Suryomentaram tentang “siapa manusia sesungguhnya?” Pertanyaan itulah yang selalu melekat di dalam dirinya ketika ia masih remaja. Bahkan pertanyaan yang sama masih ia tanyakan, sampai kelak, ketika ia tumbuh menjadi dewasa.

Selanjutnya uraian singkat tentang pemikiran Suryomentaram, saya rujuk dari buku “Psiksologi Raos Saintifikasi Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram” yang ditulis oleh Ryan Sugiarto (alumnus Fakultas Psikologi UGM).

Suryomentaram dilahirkan sebagai pangeran (putra Sultan Hamengku Buwono VI), menjadi pangeran yang serba berkecukupan ternyata tidak membuat hati Suryomentaram bahagia. Ia gelisah mempertanyakan hakikat kebahagian. Kabur dari keraton dan mengembara sampai ke pelosok-pelosok desa, merentangkan pengalamannya melampaui adat keraton yang ketat. Dalam pengembaraannya, ia pernah  berdagang di pasar dan juga pernah bekerja sebagai penggali sumur. Semua dilakukan untuk mencari hakikat kebahagiaan dan menemukan jawaban atas perntanyaanya: siapa sesungguhnya manusia itu?

Perjalanan hidupnya adalah laku mengumpulkan pengetahuan, sesuai pepatah Jawa ilmu iku kelakone kanthi laku. Kegelisahan Suryomentaram untuk mencari hakikat manusia serupa kaum filsuf atau memang ia seorang filsuf? Bagamaina pun ajaran Suryomentaram menganjurkan kebijaksanaan.
Ketika tinggal di Yogyakarta, bersama Ki Hajar Dewantara, dia mengadakan diskusi rutinan mengenai pendidikan, bahkan Taman Siswa didirikan di rumahnya. Ki Hajar Dewantara kebagian tugas mengajar anak-anak dan remaja usia sekolah. Sementara Suryomentaram kebagian tugas mengajar para orangtua.

Kebutuhan pengetahuan para orangtua dan anak-anak seusia sekolah tentu berbeda, para orangtua lebih tertarik mempelajari hakikat kehidupan. Kawruh Jiwa adalah salah satu dokumen penting yang pernah ditulis olehnya. Buku yang menganalisa sudut terdalam dari diri manusia, terutama mengenai “sih”.

Tujuan perkembangan jiwa manusia menurut Suryomentaram yaitu untuk menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang utuh ialah manusia yang berhasil mengalami pencerahan. Menurut rumusan Suryomentara tahap-tahap untuk mencapai manusia yang seutuhnya harus melewati empat dimensi.
Empat dimensi itu di antaranya, (1) sebagai juru catat,(2) kumpulan catatan, (3) ke-aku-an atau Kradamangsa, (4) dan manusia tanpa ciri. Empat dimensi ini harus betul-betul diketahui agar seseorang menjadi manusia seutuhnya.

Pada dimensi 1, manusia masih sekadar mempunyai rasa ingin tetapi ingin-nya tersebut belum sampai termanifestasikan. Seperti bayi yang baru lahir, bayi yang baru lahir sudah mampu merasakan apa-apa, namun anggota badannya belum sanggup bereaksi menurut keinginan dan perasaannya. Secara naluriah bayi manusia tersebut adalah pencatat atau perekam atas pengalaman-pengalaman.

Sementara tahap selajutnya, dimensi 2, manusia yang menyimpan kumpulan catatan. Kumpulan cacatan tersebut berupa; rekaman peristiwa hidup. Catatan-catatan ini menjadi modal penting bagi manusia untuk menemukan “aku”nya atau identitas. Karena pada dimensi 2 ini manusia sudah mempunyai “identitas” maka ia mulai memahami dirinya dan lingkungan. Dan menyadari bahwa ia berbeda dengan yang lain. Pada dimenasi manusia mempunyai kesadaran mengenai keluarga, rumah, lingkungan, dan tempat tinggalnya.

Ukuran selanjutnya yaitu dimensi 3, manusia yang sudah menemukan ke-aku-annya. Dimensi 3 ialah tahap seseorang mulai berpikir. Pada tahap ini manusia menggunakan rasionalitasnya. Ke-aku-an oleh Suryomentaram disebut juga Kradamangsa. Kradamangsa terbentuk sejak ‘aku’ (kecil) manunggal dengan Kradamangsa. Biasanya sejak umur dua atau tiga tahun. Sebelum ‘aku’ (kecil) manunggal dengan Kradamangsa, anak-anak menyebut dirinya tidak dengan ‘aku’, tetapi menyebut namanya. Sebelum Kradamangsa terbentuk anak sudah mempunyai catatan namun cara menanggapi catatan masih sering salah.

Ke-aku-anlah yang memikirkan catatan-catatan dalam dimensi 2, untuk bergerak ke dimensi 3. Jika dimensi 3 ini dipuaskan, manusia akan berada pada dimensi ini terus, sebab ke-aku-an bersifat “selalu ingin”. Suryomentaram mengklaim bahwa berpikir justru merintangi kebebasan manusia. Yang dimaksud dengan berpikir merintangi kebebasan manusia ialah membebaskan pikiran dari rasa ke-aku-an. Bukan melarang manusia untuk berpikir.

Menurut Suryomentaram, tumbuhnya rasa ke-aku-an  subjektif menjadikan diri sebagai buruh dari beragam catatan-catatan dan rekaman yang disenangi. Sehingga catatan-catatan atau rekaman yang disenangi akan memperbudak “aku” subjektif. Hal itu karena dalam tahap ke-aku-an penggerak utamanya adalah “keinginan”.

Selain itu, ke-aku-an memandang interaksi sosial atau masyarakat atau orang lain sebagai cermin. Sifat dari ke-aku-an adalah mendorong manusia untuk mencari kenyamanan diri sendiri tanpa mempertimbangkan atau peduli kepada orang lain sehingga membuat manusia bertindak sewenang-wenang. Sementara untuk melepaskannya “aku sejati” dari ke-aku-an maka manusia harus bergerak menuju dimensi 4 dan memperoleh sih . Jalan menuju dimensi 4 yaitu “mawas diri”. Mawas diri ialah metode untuk memahami keadaan dirinya yang sejujur-jujurnya.

Dengan mawas diri manusia akan mengetahui rasa yang muncul dari catatan-catatan. Antara “aku sejati” dan “ke-aku-an”, Suryomentaram menyebutnya sebagai jalan simpang tiga, yang satu menuju “ke-aku-an”, sementara yang satunya lagi menuju ‘manusia tanpa ciri’. Maka manusia harus memilih jalan yang menuju “manusia tanpa ciri”. Dengan begitu rasa ke-aku-nya akan hilang, dan ia menjadi tuan bagi dirinya sendiri, bukan tuan dari catantan-catatannya.

No comments:

Post a Comment