Saya mengenal jurnalisme sejak bergabung dengan LPM Al Millah. Dari sana, saya bertemu dengan orang-orang yang satu minat sehingga saya makin tertarik di bidang jurnalistik.
Meskipun sebetulnya daripada menghasilkan karya jurnalistik, selama di LPM Al Millah, saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku.
Kegiatan itu membuat saya jadi sangat jarang liputan di lapangan. Sangat jarang melatih keterampilan menggali data di lapangan; dan mengolah hasil liputan itu menjadi karya jurnalistik.
Maka wajar jika senior saya menempatkan saya di bagian Litbang LPM Al Millah. Saya pun lebih banyak lagi membaca buku. Sementara tulisan saya tidak berkembang menjadi lebih baik.
Dari kegiatan membaca itu, terdapat beberapa buku mengenai jurnalistik yang bikin saya bergetar setelah membacanya. Pertama, buku yang tak sengaja saya beli judulnya Jurnalisme Kompas ditulis jurnalis senior Kompas, Yurnaldi.
Buku itu semacam pandauan jika ingin menjadi jurnalis di Kompas, atau semacam potongan cerita mengenai minat Yurnaldi dibidang jurnalistik sejak mahasiswa hingga ia jadi jurnalis di Kompas.
Yurnaldi menerbitkan sendiri bukunya itu. Hasil puluhan tahun bekerja menjadi jurnalis di Kompas cukup menyisakan uang buat mendirikan penerbitan sendiri.
Buku kedua yang bikin saya bergetar adalah bukunya Seno Gumira Ajidarma. Judulnya Triogi Insiden, saya menemukan buku itu berserak di lapak obral di toko buku Media Book, Jalan Batoro Katong, Ponorogo.
Sebetulnya buku itu adalah buku terbitan lama. Sebelumnya buku itu diterbitkan secara terpisah menjadi tiga buku, Saksi Mata, novel Jazz, Parfum, dan Insiden , dan buku esai Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara.
Yang menarik dari Trilogi Insiden, buku ini adalah hasil liputan majalah Jakarta-Jakarta mengenai insiden di Timor Timur. Isu tersebut sangat sensitif waktu itu. Pemberitaan mengenai Timor Timur mendapat sensor dari pemerintah.
Maka Seno bersiasat, bahan mentah hasil wawancara di Timor Timur itu dialihkan mediumnya, dari serangakaian kegiatan jurnalistik menjadi sekumpulan
cerpen, novel, dan sekumpulan esai.
Sementara buku ketiga mengenai jurnalisme yang tak kalah membikin saya bergetar adalah komik novel Footnotes in Gaza karya jurnalis Amerika, Joe Sacco.
Buku itu, saya temukan bersamaan dengan Trilogi Insiden. Saya butuh waktu yang lama untuk menyelesaikannya; terlalu banyak gambar dan terlalu tebal.
Tapi, teman yang suka grafis, menyelesaikan buku itu tak sampai satu minggu. “Asu, buku iki gae aku nangis,” katanya usai menyelesaikan Footnotes in Gaza. Saya pun jadi penasaran, dan ngebut untuk menyelesaikannya.
Hasilnya, ketika saya membaca buku itu dengan cara menikmati detail goresan gambarnya, rasanya, Joe Sacco seperti mengajak saya untuk berjalan-jalan bersamanya menyaksikan sendiri bagaimana kehidupan pengungsi di Gaza.
Ketiga buku itu, yang mencuci otak saya untuk jadi jurnalis. Sebuah fakta, data lapangan, ternyata bisa jadi karya yang menarik seperti itu.
Meskipun ketika saya benar-benar jadi jurnalis ternyata kerja jurnalis itu tak senikmat seperti yang saya bayangkan.
Di sisi lain, saya harus maklum, saya jadi junalis daerah, Kediri. Saya harus sadar, bahwa menjadi jurnalis daerah yang dihadapi bukan isu-isu besar seperti konflik Timor Timur, konflik Palestina dan Israel, atau misalnya bisa meliput mengenai sosok seperti Rhoma Irama atau Jokowi.
Menjadi jurnalis di daerah, yang dihadapi adalah isu-isu yang serba kedaerahan. Sehingga dengan cara menyadari seperti itu, saya bisa sedikit menikmatinya. Saya tak bisa memilih-milih isu. Isu apa pun yang ada, harus diolah sebaik-baiknya.
Meskipun saya tak bisa bertahan lama jadi jurnalis di Kediri, paling tidak, ada sedikit kepuasan. Ketika seorang teman memberi kabar bahwa salah satu karya jurnalistik saya menang dalam kompetisi triwulan yang diadakan Jawa Pos Grup, pada September 2020 lalu.
Kompetisi Product Quality Jawa Pos Grup itu menguji karya jurnalistik dari ratusan anak perusahaan Jawa Pos Grup yang tersebar di daerah. Yang dilombakan mulai dari konten, hingga layout-nya.
Karya jurnalistik saya yang bergenre feature/boks, masuk empat terbaik, judulnya Ada yang Terbelit Utang, Ada yang Terusir Ipar . Tentu saja, hasil itu tak terlepas berkat tangan dingin redaktur.




No comments:
Post a Comment