Another Trip to The Moon karya Ismail Basbeth merupakan film tanpa dialog. Memasukan
voice mantra, dipadukan dengan musik
latar tradisional, menghasilkan suasana yang magis.
Menceritakan tokoh perempuan (Tara Basro) yang dipaksa menikah oleh ibunya, lalu melarikan diri ke hutan dan bertemu serta hidup dengan tokoh perempuan lain. Hutan menjadi tempat melarikan diri dan penemuan jati diri ketika sang tokoh utama keluar dari dominasi dan struktur kekuasaan yang dipaksakan kepadanya. Tokoh utama melakukan perlawanan kepada kekuatan matriark.
Sebelum nonton Another Trip to the Moon, saya pernah nonton beberapa film Alejandro Jodorowski. Film yang saya tonton itu berjudul, El Topo, Holy Mountain, dan Santa Sangre. Ketiga film tersebut sarat dengan gambar-gambar surreal, pikiran-pikiran magis sekaligus filosofis dan nyaris melampaui batas-batas keumuman. Sejumlah kritikus menganggap film-film Jodorowsky anti-kapitalis, anti-imperialis, anti-agama, dan anti-keluarga.
Terlepas dari keanehan yang berlebihan dari film Alejandro, agaknya Ismail punya kecendurangan yang mirip dengan gaya Alejandro. Yakni memasukan gambar-gambar surreal. Tikus besar yang menghampiri tokoh utama, kelinci mainan dalam hutan rimba, atau tiba-tiba adegan dari hutan berganti adegan kota yang dipenuhi perangkat teknologi modern. Hal ini bukan suatu hal yang baru dalam film. Film Alejandro mempunyai banyak adegan yang serupa.
Di Santa Sagre, ada adegan yang memperihatkan bendera Amerika. Bendera Amerika menyimbolkan bapak yang penuh kuasa. Sante Sangre punya muatan politis yang berlapis-lapis. Sesudah tokoh protagonis menghancurkan bapak atau kehilangan bapak, ia berada di bawah kekuasan ibu (matriarki). Selanjutnya adalah perjuangan protagonist agar terbebas dari kukungan matriarki. Ia berusaha keras agar bisa keluar dari kegilaannya. Keinginan-keingin Ibu di dalam dirinya yang harus terus dipenuhi.
Another Trip to The Moon, kurang lebih mempunyai pesan yang sama. Yakni pertentangan tokoh utama demi bisa keluar dari bayang-bayang ibunya. Di akhir cerita, tokoh utama berhasil lepas dari bayang-bayang itu. Dengan meninggalkan suami dan anaknya menuju bulan bersama kekasih lesbiannya. Akibatnya, anak yang dia lahirkan harus hidup tanpa ibu.
Menceritakan tokoh perempuan (Tara Basro) yang dipaksa menikah oleh ibunya, lalu melarikan diri ke hutan dan bertemu serta hidup dengan tokoh perempuan lain. Hutan menjadi tempat melarikan diri dan penemuan jati diri ketika sang tokoh utama keluar dari dominasi dan struktur kekuasaan yang dipaksakan kepadanya. Tokoh utama melakukan perlawanan kepada kekuatan matriark.
Sebelum nonton Another Trip to the Moon, saya pernah nonton beberapa film Alejandro Jodorowski. Film yang saya tonton itu berjudul, El Topo, Holy Mountain, dan Santa Sangre. Ketiga film tersebut sarat dengan gambar-gambar surreal, pikiran-pikiran magis sekaligus filosofis dan nyaris melampaui batas-batas keumuman. Sejumlah kritikus menganggap film-film Jodorowsky anti-kapitalis, anti-imperialis, anti-agama, dan anti-keluarga.
Terlepas dari keanehan yang berlebihan dari film Alejandro, agaknya Ismail punya kecendurangan yang mirip dengan gaya Alejandro. Yakni memasukan gambar-gambar surreal. Tikus besar yang menghampiri tokoh utama, kelinci mainan dalam hutan rimba, atau tiba-tiba adegan dari hutan berganti adegan kota yang dipenuhi perangkat teknologi modern. Hal ini bukan suatu hal yang baru dalam film. Film Alejandro mempunyai banyak adegan yang serupa.
Di Santa Sagre, ada adegan yang memperihatkan bendera Amerika. Bendera Amerika menyimbolkan bapak yang penuh kuasa. Sante Sangre punya muatan politis yang berlapis-lapis. Sesudah tokoh protagonis menghancurkan bapak atau kehilangan bapak, ia berada di bawah kekuasan ibu (matriarki). Selanjutnya adalah perjuangan protagonist agar terbebas dari kukungan matriarki. Ia berusaha keras agar bisa keluar dari kegilaannya. Keinginan-keingin Ibu di dalam dirinya yang harus terus dipenuhi.
Another Trip to The Moon, kurang lebih mempunyai pesan yang sama. Yakni pertentangan tokoh utama demi bisa keluar dari bayang-bayang ibunya. Di akhir cerita, tokoh utama berhasil lepas dari bayang-bayang itu. Dengan meninggalkan suami dan anaknya menuju bulan bersama kekasih lesbiannya. Akibatnya, anak yang dia lahirkan harus hidup tanpa ibu.
No comments:
Post a Comment