21 October 2018

Pengalaman Pertama Membaca Chairil Anwar

Sepanjang belajar di SMK jurusan TKR (Teknik Kendaraan Ringan) tak ada materi yang menyinggung Chairil Anwar. Oleh guru bahasa, kami disuruh untuk buat cerita pendek. Itu materi bahasa Indonesia yang masih aku ingat. Aku bikin cerita pendek asal-asalan. Tapi ada semacam kepuasan batiniah ketika menyerahkan cerita pendek asal-asalan itu kepada guru kami. Aku membayangkan karya bakal  dibaca.

Waktu itu, aku tak kenal Chairil Anwar. Sastra bagiku adalah pantun. Atau puisi anak-anak. Tentang sawah, pelangi, guru, dan semacamnya. Materi tentang pantun kuterima saat SMP.

Selebihnya saat remaja, puisi yang kutahu adalah puisi cinta. Puisi yang kubaca dari buku yang kupinjam dari tetangga. Ia bekerja di kota. Sebabai baby sister bayi. Ketika pulang ia membawa buku itu. Ketika berangkat lagi kerja, buku itu ditinggal di rumah. Maka, saya meminjamnya. Seorang gadis desa. Umurnya jauh di atasku. Aku memanggilnya Mbak. Kami masih saudara jauh.

Buku puisi itu bukan murni buku puisi. Melainkan semacam buku kumpulan surat. Buku itu jelas bukan buku sastra. Semacam buku bacaan buat ABG yang lagi kasmaran. Surat-surat dalam buku itu, memuat surat dua pasang kekasih. Aku membacanya tidak tuntas. Membosankan. Di SMP, aku tidak terlalu suka membaca buku. Tak ada budaya literasi di sekolah maupun di rumah. Sehingga tak ada yang mendorongku atau memotivasiku untuk membaca,

Kegiatan literasi yang kujalani merupakan kegiatan yang alamiah. Tanpa dipaksa oleh siapa-siapa. Tanpa hukuman-hukuman layaknya anak kota yang tak patuh pada orangtua. Anak gunung sepertiku lebih akrab dengan hutan, pohon, ladang jagung, sungai, sawah, burung, kambing, sapi. Ketimbang buku. Buku lebih identik dengan orang kota. Orang desa tak sempat membaca buku. Bekerja sudah cukup melelahkan

Kesadaran literasi itu bermula ketika saya bosan di kelas melulu. Karena sekolah swasta siswa lebih longgar buat bolos.

Dan sekolah kami adalah sekolah swasta yang bentuknya Yayasan. Yayasan tersebut menampung antara lain, SMA, SMEA, dan SMK. Suatu hari  ketika jam kosong, saya main-main ke kelas SMA (masih satu yayasan). SMA juga sedang kosong. Di ruang kelas yang kumasuki, di papan tulisnya yang masih menggunakan kapur tertulis "Sajak Putih". Sajak itu memenuhi seluruh papan tulis. Ukuran hurufnya besar dan yang menuliskannya berbakat menulis indah. Saya membacanya dan, jalang! Begitu kira-kira makian saya jika saja saya sudah tahu bahwa Chairil Anwar itu binatang jalang.

Sejak itu aku tertarik dengan buku. Menyempatkan bertanya soal Perpustakaan Daerah pada teman-teman yang domisilnya asli kota. Gimana cara daftar jadi anggota? Apa saja syaratnya ? Buku apa saja yang ada di PERPUSDA? Maklum anak desa asli. Jadi serba tidak tahu soal PERPUSDA.

Soalnya kegiatan literasi adalah kegiatan yang asing bagi orang desa. Soalnya. bapak-ibu kami,tak terbiasa dengan buku. Kebanyakan orang desa lulus SD. Sedikit orang yang lulus SMA. Dan orang-orang yang lulus SMA ini pun tak punya kesadaran literasi. Hasilnya, anak-anak seperti kami yang tumbuh dilingkungai tak sadar literasi, jadi ikut pula tak sadar literasi. Lingkungan membentuk sifat-sifat kami.

Tapi akhirnya, ketika saya sudah punya KTP, saya memberanikan diri untuk mendaftarkan diri ke PERPUSDA. Waktu itu, kira-kira umur saya 17 tahun. Sekarang sudah 24. Jadi, kegiatan litarsi saya kurang lebih sudah berjalan 7 tahun. Masih ecek-ecek. Beberapa orang yang keluarganya punya dasar literasi, memulai kegiatan literasinya sejak umur 7 atau 8 tahun. Jadi, kalau disamakan dengan umurku yang 24 tahun, aku kalah jauh. Mereka sudah biasa dengan kegiatan literasi selama 17 tahun. Sedangkan aku masih 7 tahun, selisih 10 tahun.

No comments:

Post a Comment