24 August 2018

Pembunuhan di Pagi Buta

Truk yang mereka tumpangi menempuh jarak yang amat jauh, melewati bukit-bukit terjal, dan jalan yang berkelok-kelok Mereka tiba di suatu tempat yang asing. Bagai seekor burung yang terdampar di jazirah asing, ibu muda yang keluar dari truk itu lekas mencari tempat bersarang bagi anaknya. Berjalan dari satu tempat ke tempat lain,  begitulah sampai bertemu dengan orang tua berjanggut lebat.

“Apakah gunanya manusia bersusah payah?” Tanya orangtua berjanggut lebat ketika mendapati seorang ibu yang kuyup dan gadis kecil yang kacau. Mereka telah berkeliling kampung. Tapi tak seorang pun di kampung yang mereka temui bersedia menolong.


“Matahari terbit dan tenggelam, lalu terbit kembali,” orangtua berjanggut lebat itu melanjutkan, “seluruh sungai di muka bumi mengalir ke laut, tetapi laut tak juga menjadi penuh. Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi, tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.”


Si orangtua berjanggut lebat memakai baju hitam, kontras dengan rambut dan jenggotnya yang putih. Sedangkan ibu muda beserta anaknya itu memakai baju  kumal seperti tak pernah dicuci selama satu bulan. Si orangtua berjanggut lebat menyentuh pundak ibu muda itu,  “ mari mampir ke rumahku,” katanya.


Mereka melewati kampung nelayan yang berbau amis. Pintu-pintu rumah sepanjang kampung tertutup. Beberapa orang sedang asyik berbincang-bincang. Tapi sebagian besar penghuni kampung itu berada di pantai atau di tengah laut. Di kampung itu anak-anak dan perempuan ikut melaut. Sehingga jika mereka sedang melaut kampung menjadi sepi. Mereka hidup dari berburu ikan. Hanya orangtua berjanggut lebat itu yang tak melaut. Rumah orangtua berjanggut lebat itu di pojok kampung nelayan. Hidup sendiri seperti petapa.


Suatu hari ibu muda dan anaknya yang masih kecil itu akan mengenang si orangtu berjanggut lebat sebagai si tua bijaksana. Sebab ia tak hanya memberinya makan dan minum, tapi juga tempat untuk menetap. Berkat orangtua berjanggut lebat itu, ia tahu caranya hidup, dan membesarkan anak, dan membangun rumah sendiri di kampung nelayan. 


Begitulah, awal mula kisah mereka menetap di kampung nelayan. Tak lebih dari keberuntungan belaka.


“Ibu muda itu adalah nenekku,” kata Maria sambil memainkan pasir. “Jika orangtua bijaksana tak menolong mereka, barangkali nasibku akan berbeda. Mungkin ibu akan mati kelaparan. Dan aku tak akan pernah dilahirkan." 


“Kemanakah ayahmu, Maria?” tanya Syarif.


Maria menggeleng, “aku tidak tahu. Tentu ayahku salah satu laki-laki di kampung ini.”


“Kisah keluargamu memang tidak asing di kampung ini, Maria,” kata Syarif memandang Maria. “Dari semua itu yang aku heran, untuk apa nenekmu membawa ibumu ke kampung ini?”


“Aku tidak tahu, Syarif. Aku tidak pernah bertanya soal itu,” jawab Maria. “Dan aku tak akan pernah menanyakannya.”


“Maria?”


Maria menoleh pada Syarif, “ada apa, Syarif?”


“Semalam aku bermimpi. Sungguh mimpi yang aneh,” kata Syarif ragu-ragu.


“Ceritakanlah, Syarif.”


“Seorang lelaki berpakaian hitam berjalan di atas ombak. Sedang burung gagak berputar-putar di sekelilingnya.  Ada sesuatu yang akrab, tetapi sangat mengerikan di wajahnya. Saat jarak kami sangat dekat, kulihat matanya hitam memancarkan kegelapan. Dengan penuh amarah lelaki berpakaian hitam itu memenggal kepalaku. Aku terbangun dan keringat membasahi tubuhku.”


“Sungguh mimpi yang aneh,” kata Maria sambil memandang laut yang mengantarkan ombak-ombak besar.


“Syarif! Syarif!”


Tiba-tiba mereka dikagetkan oleh suara teriakan. Mereka melihat Sahid  berdiri di kejauhan di antara deretan pohon nyiur. Maka dengan cepat Syarif menjawab, “iya, Ayah!”


“Waktunya menjaring ikan, Syarif!”


“Baiklah.”


Syarif menghambur menuju ayahnya. Ia semakin menjauh. Jejaknya membentuk garis lurus di atas pasir. Segera Maria disergap kesepian. Ia memalingkan wajahnya ke laut begitu Syarif menghilang dikejauhan. Di sana ia melihat ombak-ombak besar yang menyapu pasir pantai. 


Peristiwa kecil di kedai 

Para nelayan itu jika sedang tidak melaut banyak menghabiskan waktunya di kedai. Memesan  teh tubruk, wedang jahe, kopi hitam, hemaviton, ekstra joss, bir bintang, topi miring, arak…..


“Maria!”


“Iya, Bu.”


“Kau boleh istarahat.”


Baru saja hendak berbalik untuk istirahat, Maria mendengar suara Sahid terbatuk-batuk. Pura-pura batuk adalah kebiasaan khasnya. Sebelum duduk, ia akan menyapa teman-temannya yang ada di kedai. Tentu saja kebiasaannya itu sudah dihafal Maria di luar kepala. Namun tak biasa Syarif ikut serta bersama ayahnya.


“Lah, masih di sini. Kan sudah kubilang, istirahat sana!” tegur ibu. “Tapi… jika kau mau, buatkan wedang jahe untuk Syarif.”


“Baik, Bu.”


Dengan canggung, ia pun melangkah ke dapur untuk membuat wedang jahe. Tentu ibu sudah tahu hubunganku dengan Syarif, pikirnya. Di dapur, Maria memasak air hingga mendidih. Memasukan jahe ke dalam cangkir besar, dan menambahkan gula. Tidak butuh waktu lama untuk membuat wedang jahe.


“Terima kasih, gadis manis,” kata Sahid sembari menyeringai sehingga wajahnya yang terlalu sering terbakar matahari menjadi berkerut-kerut. Maria menjawabnya dengan menganggukkan kepala. Ia terlihat gugup. Dan cepat berbalik menghindari Sahid. Sedangkan Syarif merunduk tak berani menatap Maria. Seolah ia ingin menyembunyikan wajahnya di balik meja. Syarif cepat berubah dari satu keadaan, ke keadaan yang lain.  Kini ia mirip bocah kecil kena marah ayahnya. Melihat ekspresi anak lelakinya, mendadak Sahid berhenti menyeringai. Sembari memandangi anaknya, jarinya diketuk-ketukkan di atas permukaan meja.


Di meja lain, para nelayan berceloteh seenak mereka. Sesekali terdengar pisuhan, ejekkan, ledakan marah, dan tertawa yang panjang.


Bahkan ketika Maria sudah di kamar, suara mereka menghasilkan bunyi seperti dengung lebah. Membikin Maria sulit terlelap. Ia berguling ke kiri dan ke kanan. Saat-saat seperti itu, ia akan merindukan suasana lain. Mungkin saja jika ia melanjutkan sekolah suasananya akan berbeda.


Tak ada dengung lebah. Melainkan suasana sunyi di asrama. Hari-hari dipenuhi dengan belajar dan belajar. Berdoa dan berdoa.


Ia ingat bagaimana rencana melanjutkan sekolah itu gagal. Saat itu ketika Maria sedang bimbang, Syarif dengan suaranya yang berat berhasil menahannya. “Kau tega meninggalkanku, Maria?” Maria diam. “Kau tidak boleh pergi, Maria,” bujuk Syarif. “Kau tidak boleh pergi, manisku, yang mempunyai mata seperti bulan sabit.” Maria diam. “Aku mencintaimu, Maria.” Maria diam. Syarif putus asa. Beberapa detik mereka saling diam. Hanya debur ombak yang tak henti-henti menengahi mereka. Lalu seperti tahu apa yang ingin didengar oleh Syarif, Maria segera berkata, “aku tetap di sini, Syarif.”


Kemudian Syarif akan  merayuannya lagi dengan membabi buta. Dengan rayuannya yang manis. Sehingga membikin pipi Maria merona merah. Begitulah, akhirnya mereka memilih untuk tidak melanjutkan sekolah.


Maria menepis kenangannya itu. Lalu ia mencari-cari suara Syarif di luar sana: di meja di ruang kedai yang tak begitu luas. Tapi yang terdengar tinggal sayup-sayup suara ibu berdebat dengan pelanggan terakhir yang tentu saja sedang mabuk. Kemudian terdengar derit suara pintu kedai ditutup. Dan suara klentang-klenting gelas dan botol yang dibereskan dari meja. 


Boneka yang hilang di pagi hari 

Pagi hari sebelum orang-orang bangun dari tidurnya, sesosok jasad tergeletak di pantai. Tubuhnya terhempas-hempas oleh ombak. Tiap ombak menghempas tubuhnya, tangannya bergerak-gerak seperti ingin menggapai sesuatu. Seolah jasad itu masih hidup. Tapi tubuh itu tinggal sesosok jasad yang sudah  mati.


Saat cahaya matahari mulai berkilauan di ufuk timur, jasad itu terlihat semakin jelas. Jasad yang tergeletak itu adalah Maria. Jasad yang masih memancarkan cahaya kecantikan. Orang tak akan percaya jika yang tergeletak di atas pasir itu adalah sesosok mayat. Meski kulitnya mulai membiru, tapi tetap saja ia seperti gadis belia yang sedang tidur. Hanya tertidur. Maka orang pertama yang menemukan jasad itu pun terkecoh.


“Bangun, Maria. Bangun!”


Tak mendengar jawaban, orang itu lantas mengangkatnya. Saat mengangkat jasad yang dingin bagai es itulah seketika ia sadar bahwa yang diangkatnya adalah sesosok mayat. Maka orang itu pun berlari ke arah kampung. Berteriak-teriak membangunkan seluruh orang. Orang-orang pun bangun dengan malas. Menggeliat-geliat di tempat tidur. Kemudian ketika mereka mendengar teriakan, “Mayat!” Mereka menendang selimut dan menghambur keluar. Segeralah mayat Maria dikerubungi orang sekampung. 


Saksi mata 1 

Kematian Maria adalah peristiwa yang membuat aktivitas di kempung nelayan terhenti. Mereka enggan untuk melaut. Bahkan satu minggu setelah kematian Maria, mereka masih membicarakannya. Mereka mulai mencurigai salah satu orang dikampung itu. Tapi ia sudah tak ada di kampung. Sebelum orang itu tertangkap mereka tak akan tenang. Sayangnya mereka tak tahu bagaimana caranya menemukan pelaku yang mereka yakini telah membunuh Maria. Orang yang mereka curigai itu adalah Sahid. Sebab hanya ia di kampung nelayan yang pergi bertepatan dengan kematian Maria. Karena ribut-ribut di kampung nelayan itu, Damhuri yang menjadi saksi terakhir atas keberadaan Sahid memutuskan untuk mendatangi kantor polisi.


“Namaku Damhuri. Aku tengkulak yang biasa membeli ikan dari  kampung nelayan,” kata Damhuri kepada polisi yang bertugas mencatat keterangannya. “Sahid mencegatku di pagi yang gelap itu. Ia mencegatku di jalan. Aku kira ia seorang begal. Hampir kutabrak orang itu. Namun, setelah kupastikan wajah orang yang mencegat itu Sahid, segera kuinjak pedal rem sehingga mobil berhenti.”


“Kutanyakan pada Sahid, mau kemana kau hendak pergi? ‘Aku mau ke kota. Tolonglah, biarkan aku ikut serta bersamamu,’ katanya. Aku katakana pada Sahid, ‘jika kau mau, duduklah di belakang bersama tong-tong ikan berbau amis itu’. Ia bersedia duduk di belakang di antara tong-tong ikan berbau amis.”


“Apa kau tidak curiga?” tanya polisi.


“Curiga? Tidak! Sahid bukan nelayan pertama yang numpang ke kota. Sudah menjadi kewajibanku untuk menolong. Resikonya mereka harus duduk di belakang bersama tong-tong ikan berbau amis.”


“Sesampainya di kota ia bilang kepadaku, ‘turun dekat terminal’, kata Sahid. Maka aku menurunkannya di dekat terminal. Ia memberiku uang 15 ribu, ‘buat beli rokok’, katanya. Aku menolaknya. Setelah Sahid turun, aku tak memperhatikan kemana perginya. Cuma sejauh itu informasi yang bisa kuberitahukan.” 


Saksi Mata 2 

“Malam sebelum kejadian itu Sahid datang ke kedai bersama Syarif. Ia memesan arak, sedangkan Syarif memesan wedang jahe.”


“Aku menyuruh Maria membuatkan wedang jahe untuk Syarif. Alasanku menyuruh Maria membuatkan wedang jahe karena aku curgia dan menduga bahwa mereka menjalin cinta. Aku mendengar kasak-kusuk diam-diam mereka sering bertemu. Malam itu aku ingin mengetes bagaimana perubahan mimik muka mereka. Dan benar, ada gelagat yang menunjukan mereka sedang jatuh cinta.”


“Malam itu Sahid mabuk berat. Ia menampar Syarif berkali-kali. Jika sedang mabuk, Sahid sering bertingkah kelewat batas. Tak kuasa aku untuk melerai mereka.”


“Apa Maria juga tahu peristiwa itu?” Tanya polisi.


“Tidak. Maria tidak tahu. Aku yakin dia sudah tidur.”


“Baik, lanjutkan,” kata polisi.


“Ketika muka Syarif  sudah babak belur, ia lari karena saking takutnya. Sedangkan Sahid masih di kedai.”


“Sahid adalah pelanggan terakhir  yang ada di kedai sebelum kututp. Sahid mengancamku ‘Bukankah kau tahu siapa anakmu itu?’ tanya Sahid kepadaku dengan kasar, ‘Jika kau tak menjauhkan mereka, aku akan menjauhkan dengan caraku sendiri.”

“Aku menjawab ancamannya dengan tegas, ‘Tidak Sahid. Aku tidak akan menjauhkan dua orang yang saling mencintai. Cinta yang tak pernah kurasakan seumur hidup.”


“Apa Sahid tidak memukulmu?” tanya polisi.


“Tidak, Sahid tidak memukulku. Aku juga heran. Biasanya jika permintaannya dibantah, ia akan memukul siapa saja yang membantah.”


“Malam itu, Sahid pergi dengan bersungut-sungut. Ia sering mengancamku. Namun, tak kusangka jika Sahid nekat melakukan… ah”, Magda tak kuasa melanjutkan. Tenggorokkannya terasa tersekat. Ia menangis tersedu-sedu di depan polisi yang mencatat keterangannya. 


Pengakuan 

Sahid yang baru pulang bertualang itu merasakan hawa di kampungnya ada yang berubah Menjadi kian sesak saja, pikirnya. Kedua tangannya sibuk menjinjing dua plastik besar yang penuh barang belanja. Ia  membeli oleh-oleh buat Syarif, Maria dan juga Magda. Ia sudah membulatkan tekad untuk membuat pengakuan kepada mereka.


Tapi, hawa kampung yang sesak itu makin sesak ketika ia melihat beberapa tetangga yang ditemuinya lari. Ia merasa tak punya salah kepada mereka. Justru ia merasa bersalah pada Syarif, karena pergi tanpa sepengetahuannya. Memang tak ada seorang pun yang tahu kepergiannya kecuali tengkulak yang mobilnya ia tumpangi. Sudah terhitung dua minggu sejak kepergiannya. Di kota, ia bekerja jadi kuli. Ia tak melaut karena laut sedang mengalami cuaca buruk. Dari pekerjaannya di kota itulah ia bisa membeli barang-barang hadiah itu.


Ia  berjalan gontai menuju kampung. Memikirkan orang yang ia temui di jalan masuk yang lari itu. Kenapa mereka lari? Apakah aku menjadi menakutkan? Tanyanya dalam hati.


Tak lama kemudian tiba-tiba dari arah depan, berkumpul orang-orang mengepung Sahid. Ia bingung, ia merasa  tak punya salah kepada mereka. “Apa yang kalian inginkan?” tanya Sahid dengan suara yang keras. Bukannya menjawab pertanyaan Sahid, mereka malah menyeretnya. Bajunya hampir lepas karena ditarik-tarik. Dan hadiahnya dalam plastik besar itu jatuh. Dinjak-injak oleh orang-orang yang mengepungnya. “Berikanlah pengakuan kepada, Magda!” teriak orang-orang itu ketika sampai di rumah Magda.


“Apa yang harus aku akui?”


“Jangan pura-pura tidak tahu!” teriak orang yang paling garang di antara mereka.


Mendengar ribut-ribut, Magda segera keluar.

Sahid meminta penjelasan pada Magda, “apa yang harus kuakui? Mereka ini orang gila,” kata Sahid berharap Magda memberi pertolongan. “Apa yang harus kuakui?” tanya Sahid sekali lagi. Tapi Magda tak menjawab pertanyaan Sahid. Justru ia menatap Sahid dengan tatapan dendam. “Baiklah, aku akui. Maria memang anakku, lalu apa salahnya?” kata Sahid. Kini ia menatang orang-rang itu, “kalian ingin aku menikahi Magda? Baiklah aku akan menikahinya segera. Bahkan hari ini tanpa kalian paksa aku akan menikahinya.”


Bukannya membela Sahid, Magda malah masuk ke dalam rumah. Sebentar kemudian keluar lagi membawa palu. Tanpa berkata apa-apa Magda langsung menghantamkan palu itu ke kepala Sahid berkali-kali. Sampai darah mengucur dari pelipisnya.


Tiba-tiba Syarif berlari ke arah kerumunan itu. Lantas ia menyibak kerumunan orang-orang itu. Mendapati ayahnya dipukuli oleh Magda, ia meghambur dan menjadikan tubuhnya sebagai perisai, “ampuni, ayah! Tolonglah!” Syarif memamohon-mohon pada Magda. “Akulah yang membunuh anakmu. Bapak tak bersalah.”  Lalu Magda tersungkur dan tak sadarkan diri. Sedangkan Sahid mendengar itu menatap kosong pada Syarif.


*

Syarif tidak melawan ketika dua polisi meringkusnya dan membawanya ke kantor polisi. Di sana ia mengakui perbuatannya, “Setelah mendapat mimpi aneh, rasanya kepalaku jadi sakit. Lelaki bermata gagak itu memberi pesan kepadaku,” Syarif memandang penuh keyakinan pada polisi yang sedang mengintrogasinya, “Maria adalah adikku. Itulah yang membuat kepalaku sakit."


“Lalu apa yang kamu lakukan?” tanya polisi itu.


Syarif diam, ia tertunduk seoalah ingin menyembunyikan wajahnya di balik kursi. Kemudian ia menjawab singkat, “aku membunuhnya.”***


22 June 2018

Perempuan di Balik Jendela


Kisah ini tepatnya di sebuah kafe langgananku. Di mana aku sering memandang ke tepi jalan melalui jendela. Padahal sebelumnya aktivitasku di kafe hanya sebatas menyedu secangkir kopi sampai habis. Hingga suatu hari tanpa sengaja mataku menemukan seorang perempuan yang amat cantik. Berjalan melintas di depan kafe.

Sejak peristiwa itu intensitasku ke kafe makin sering. Mulanya hanya sekali dalam seminggu, tapi sejak kejadian itu, tiap hari aku meluangkan waktu pergi ke kafe. Sudah seperti ibadah saja, Memandangi jendela hingga aku hampir hafal detail bintik cat yang menempel di ambangnya.

Sayangnya, setelah berulang kali aku menemukan dia melintas di depan kafe ternyata keberanianku hanya sebatas memandangnya.

Belum ada keinginan untuk mengenalnya lebih jauh. Misalnya dengan keberanian pas-passan keluar ke jalan meminta kontak yang bisa dihubugi. Atau dengan cara-cara semisal yang bisa mendekatkan. Seandainya waktu itu ada yang mengamati gerak-gerikku, pastilah tingkahku terlihat sangat konyol.

Harapan yang paling besar setelah misi ini selesai yaitu bisa menjadi kekasihnya. Sepanjang pengamatan, secara fisik dia telah memenuhi kriteriaku yang amat rumit. Bermata sipit, alami, tinggi, kulit sawo matang, jawa, cerdas.

Dari tumpukan buku yang selalu di impitnya dugaanku dia perempuan cerdas. Semacam novel dan buku filsafat. Satu di antaranya aku sempat membaca judulnya: 1984; Geogre Orwell.

Lalu aku mulai berspekulasi tentang dirinya. Perempuan yang menyukai filsafat dan seni, punya kecenderungan romantis sekaligus seorang yang terutup. Oleh karena itu aku sedikit berhati-hati. Sebenarnya sudah ada puluhan rencana untuk mendekatinya. Salah satunya pura-pura menabraknya dari arah depan. Adegan selanjutnya pura-pura membantu memungut buku yang terjatuh. Tapi bukanya adegan seperti itu sering diperagakan di sinetron.

Tiap kali ia melewati kafe jantungku seperti di pompa darahku mengalir lebih deras. Kian hari perasaanku semakin menumpuk-numpuk. Menunggu Tuhan menakdirkan pertemuan alami dengannya. Sebenarnya aku cuma berharap agar kisah cintaku ini tidak seperti kisah cinta yang beredar di pasaran. Melainkan, sebuah perjumaan alami. Karena meskipun banyak menu yang disajikan, aku selalu setia memilih kopi tubruk darpada yang lain. Entah kenapa aku sangat tergila-gila dengan kealamian.

Oleh karena itu aku rajin datang ke kafe semata-mata mendekati pertemuan alami dengannya. Rencana konyol yang pernah aku susun sudah tidak berlaku lagi. Suatu hari aku menemukan dia tengah terguyur hujan deras. Pakaianya basah kuyup, jalanya cepat-cepat. Waktu itu aku sudah berdiri merencanakan sebuah skenario penolongan. Tapi aku pikir itu bukan pertemuan yang alami. Aku khawatir nantinya persis seperti adegan di novel dan film romantis. Akhirnya niat itu aku urungkan.

Esoknya aku tidak mendapati perempuan itu berjalan melintas di depan kafe. Dugaanku dia sedang terkena demam atau flu gara-gara kehujanan kemarin. Sebagai seorang yang mencintainya, aku jadi gelisah. Jangan-jangan dia sakit parah.

Berkali-kali, aku mengaduk cangkir kopi padahal gula sudah larut sejak tadi. Memandang tepi jalan melalui jendela. Memandang lagi, mengaduk, memandang lagi, mengaduk. Semacam perasaan gelisah dan perasaan yang lain, mungkin rindu. Kala itu aku membayangkan adegan pertemuan. Menjabat tangannya, “perkenalkan namaku Sidi, namamu siapa?” tanyaku.

“Namaku Laras. Sidi? Nama yang aneh.” Jawabnya tersenyum.

“Kalau di Melayu nama itu tidak aneh. Kata orangtuaku ‘Sidi’ diambil dari nama ‘Ajo Sidi’ dikutip dari cerpen ‘Robohnya Surau Kami’, pengarangnya A.A Navis.”

“Berarti kamu laki-laki dengan ucapan sembrono itu ya?” kini senyumnya lebih lebar.

“Terserah kamulah!” candaku membalas pertanyaanya, “Laras, ngomong-ngomong besok ada waktu luang. Aku ingin traktir kamu kopi?”

“Ya kebetulan ada waktu luang, di mana?”

“Kafe sebelah itu.” aku menunjuk kafe langgananku.

“Baiklah,” jawab Laras, “oh iya kita lanjut besok saja ya. Ini masih banyak kerjaan.” Laras pergi meninggalkan sebatang harapan beraroma manis.

Tanpa aku sadari ternyata aku sedang tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan suatu peristiwa dengan perempuan itu. Harapan yang kian menumpuk tapi tak tercapai kadang butuh pelampiasan untuk meredakannya. Salah satunya dengan berkhayal. Kopi yang tadi mengepul asapnya sudah mereda. Tinggal riak hitam warna kopi yang sesekali memantulkan bayangan cahaya. Hari ini dia benar-benar tidak ada.


***

Hari berikutnya seperti biasa aku memesan secangkir kopi, memilih meja dekat jendela. Menyandarkan punggung di kursi, kemudian mendengarkan lantunan lagu yang disedikan kafe. Sesekali mengamati pengunjung lain. Lalu kembali melempar padangan ke jendela yang mengarah langsung ke jalan. Dalam penglihatanku jendela menjadi kanvas, lalu di kacanya tengah aku lukis seorang perempuan berjalan sangat anggun.

Di dalam bingkai yang berupa jendela itu, wajahnya amat manis, kali ini rembulan yang paling terangpun kalah cantik dengannya. Dia selalu menatap ke arah depan. Seandainya saja dia menatap ke arah kafe. Atau sekali saja dia menoleh, pastilah, mata kita akan saling menemukan dalam tatapan singkat. Pada tatapan singkat itu aku bisa saja menyisipkan kode rahasia. Kemarilah perempuan, bukannya di mataku kamu menemukan cinta? Tapi kemudian dia menghilang di balik jendela.

Di kafe ini aku menghabiskan puluhan cangkir kopi, membuat puluhan rencana pertemuan, dan puluhan puisi yang tidak pernah rampung. Setiap sampai bait terakhir wajah perempuan itu memenuhi kertasku. Dengan segala cara, dia menahan puisiku agar tidak pernah selesai. Dan menggagalkan setiap rencana pertemuan.***
 
2016



Pembacaan "Perempuan di Balik Jendela":

9 February 2018

Masyarakat Berambut Gondrong


Negara pernah mencampuri aktivitas privasi warganya dengan sangat ekstrim: ‘Di larang Berambut Gondrong!’. Pada tahun 1973, pemerintah menargetkan bersih dari rambut gondrong. Aparatus negara seperti ABRI melakukan razia di jalan-jalan untuk melakukan operasi ‘rambut gondrong’. Jika ada yang kedapatan berambut gondrong, maka akan dicukur di tempat. Hal ini dicatat oleh Aria Wiratma Yudhistira dalam bukunya; ‘Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an’.


Bagi saya, aktivitas berambut gondrong menandai beberapa hal dan itu bukan hanya soal politik, ideologi, atau spirititualitas, tapi juga murni semata-mata sebagai gaya.


Rambut gondrong yang murni sebagai gaya tentu tanpa disertai dengan motivasi ideologi atau politik atau spiritualitas trtentu. Biasanya terinspirasi dari iklan atau film atau poster. Jadi, rambut gondrong yang murni sebagai gaya ini fungsinya cuma sekadar menunjang penampilan. Berbeda dengan berambut gondrong dengan motivasi ideologi.


Fenomena berambut gondrong yang dimotivasi oleh ideologi dan politik ditandai lahirnya generasi hippies. Hippies merupakan gerakan counter-culture yang berkembang di Amerika Serikat pada era 1960-an.


Gerakan ini lahir sebagai antitesis dari generasi sebelumnya yang dinilai telah jauh dari alam tempat mereka berasal. Menurut mereka manusia modern telah dibutakan oleh ambisi menaklukkan, perang, dan menang. Oleh karena itu kemudian Hippies dikenal sebagai gerakan ‘Kiri Baru’. Budaya Hippies yang menjunjung kebebasan individu ini identik dengan rambut gondrong, perilaku seks bebas, penggunaan narkotika, dan busana yang lebar dengan warna mencolok.


Selain dua kategori tadi, ada satu kategori lagi, yakni berambut gondrong yang di motivasi oleh spiritualitas. Seorang teman ketika saya bertanya kepadanya tentang motivasinya berambut gondrong, ia menjawab, “ini sebagai ‘laku’.” Setahu saya ia memang pernah mondok di pondok salaf tradisional. Saya sendiri kurang tahu, laku seperti apa yang sedang dijalaninya. Paling tidak, saya tahu gondrongnya karena spiritualitas


Ketiga kategori tersebut bisa jadi mendistorsi makna ‘berambut gondrong’ yang lebih luas. Tapi, terlepas dari itu, ‘berambut gondrong’ sebetulnya bisa disederhanakan sebagai ‘ekspresi-diri’ . Namun, di dalam buku Yudisthira, pada masa orde baru; ternyata berambut gondrong identik dengan kriminalitas atau sesuatu yang buruk. Citra itu diperkuat lewat pembentukan opini publik lewat media massa. Bahkan, setiap pelajar sekolah wajib memangkas rambutnya dengan gaya ABRI, orang yang gondrong tidak akan dilayani di dinas pemerintahan,  artis-artis yang berambut gondrong dilarang tampil di TV.


Terlihat, pemerintahan orde baru sangat bersyahwat untuk mencampuri urusan privasi warganya atau sebetulnya ini adalah syahwat bersama? Maksud saya, selain syahwat pemerintahan orde baru, juga syahwat mayoritas masyarakat kita. Misalnya yang terjadi belum lama ini; pejabat publik yang mantan penyanyi mengikat rambutnya dengan karet, lalu hal itu mendapat tanggapan negatif dari masyarakat.


Saya pribadi, ketika sewaktu-waktu harus terlibat dalam pembiacaraan dengan kasus serupa, saya akan menjawab dengan sederhana saja, “gaya rambut macam apa pun tak akan mempengaruhi kecerdasan seseorang. Sama seperti mandi tujuh kali sehari tak akan mempengaruhi kecerdasan seseorang.”

5 January 2018

Animal Farm yang Sakarsme

Kadang saya kasihan pada babi yang sering digunakan sebagai alegori untuk menggambarkan sifat manusia, begitu pula saya kasihan pada binatang lainnya seperti; kadal, monyet, anjing, coro, dan yang lain sebagainya.

Bukankah mereka mempunyai sifat demikian itu karena tawaduk, maksudnya, mereka tidak menyalahi kodrat yang sudah digariskan oleh alam, tidak sombong dan tidak melebih-lebihkan apa yang mereka miliki. Jika monyet serakah itu memang sifatnya monyet, jika babi pemalas itu memang sifatnya babi, dan jika coro suka sembunyi di lubang pispot, bukankah begitu yang sudah digariskan oleh alam bagi kehidupan coro?

Akan jadi gempar jika ada binatang yang menyalahi kodrat alamnya. Misalnya, ada babi yang berjalan menggunakan dua kaki dan berbicara mengenai politik. Itu bakal menggemparkan dunia dan bisa dikecam babi-sesat. Sebab telah menyalahi kodrat babi yang berjalan merangkak dan berbunyi menguik-nguik dan babi seharusnya tidak berbicara mengenai politik.

Soal babi yang berjalan dengan dua kaki dan berbicara mengenai politik, ini pernah terjadi di dunia dan mungkin hanya terjadi satu kali. Riwayatnya bisa dibaca di dalam kitab ‘Animal Farm’ karya Goerge Orwell atau ‘Binatangisme’ yang diterjemahkan oleh Mahbub Djunaidi.

Saya kasih bocoran sedikit; menjelang akhir januari, tak bisa dielakan lagi bahwa memang sudah amat perlu mengusahakan gandum dari mana saja. Di hari-hari itu, babi Napoleon amat jarang muncul di muka umum. Ia banyak menghabiskan waktu di dalam gedung peternakan, yang pintu-pintunya dijaga oleh anjing-anjing yang bermuka ganas. Kalau saja ia muncul keluar, pastilah dalam gaya upacara. Dikawal oleh 6 ekor anjing yang ketat mengelilinginya… (Binatangisme, hal 88). Begitualah sedikit cuplikan riwayat babi-babi-sesat.  Sengaja bagian yang paling seru tidak saya kutip. Jika Anda penasaran sebaiknya Anda baca sendiri kitab ini .

Jika Anda sudah membaca kitab ini, saran saya, silahkan Anda membandingkan tokoh-tokoh George Orwell dengan tokoh politik kita. Adakah tokoh politik kita yang mirip dengan tokoh-tokoh George Orwell? Saya yakin Anda akan mendapatkan sebuah kebahagian jika berhasil menemukankannya, seperti ketika tanpa sengaja menemukan kalung yang hilang bertahun-tahun lalu, “Oh… ternyata ini!”

Itulah kenikmatan membaca karya sastra. Selain menghibur juga menambah asupan gizi, sehingga tidak mudah diombang-ambing oleh isu-isu politik picisan. Begitulah seharusnya karya sastra dibaca.

Sekali lagi, untuk mengakhiri tulisan ini, biarkan babi tetap menjadi bagi. Sebab jika babi berpolitik nanti akan menyalahi kodrat dan kisahnya akan ditulis seperti George Orwell menulis Animal Farm.

*Semacam resensi

4 January 2018

Nasib Tambang Batu di Desa Kami

Berdasarkan data UPT-P3TKI Surabaya tahun 2013, tercatat sebanyak 52.571 warga menjadi  buruh migran.


Di Jawa Timur terdapat 39 daerah yang berkontribusi terhadap pengiriman buruh migran. Kabupaten Malang merupakan penyumbang buruh migran paling banyak dari Jawa Timur, kemudian Kabupaten Blitar sebanyak 5.179, Kabupaten Ponorogo sebanyak 5.151 orang, serta Kabupaten Tulungagung sebanyak 3.293 orang.


Banyaknya minat masyarakat untuk menjadi buruh migran menjadi indikasi bahwa di Indonesia masih sangat minim lapangan kerja. Khususnya di daerah-daerah pinggiran masih sangat kering terhadap penyerapan tenaga kerja. Seperti halnya  data yang ditunjukan oleh UPT-P3TKI; di kabupaten Ponorogo ada sebanyak 5.151 orang menjadi buruh imigran.


Tentu itu karena mereka tidak kebagian lapangan kerja, atau karena tidak menyadari potensi yang ada di daerahnya sendiri, sehingga mereka lebih memilih menjadi buruh migran agar kesejahteraan mereka terjamin (perlu dipertanyakan definisi kesejahteraan di Indonesia itu seperti apa?). Padahal ada banyak potensi ekonomi jika dikelola dengan sungguh-sungguh bisa menyerap tenaga kerja mulai dari produksi rumahan, pertanian, bahkan pertambangan.


*

Penulis sempat berkunjung di desa Tajung Sari Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo (Mei 2014). Ternyata dari jumlah total buruh imigran di Ponorogo,  sekitar 11,65 % atau 600 buruh migran berasal dari desa Tanjung Sari. 


Memang sekilas tidak ada yang spesial di desa Tanjung Sari. Tapi sebenarnya jika diamati lebih rinci di desa Tanjung Sari menyimpan beberapa potensi mulai dari produksi kerupuk rumahan, lahan pertanian, sampai kekayaan alam berupa tambang batu dan pasir. Tambang batu dan pasir di desa ini terbagi menjadi dua titik eksploitasi, dua titik itu; di selatan dan timur desa. Di selatan beberapa tahun lalu ditutup dan akan diubah menjadi lahan sawah. Untuk di timur saat tulisan ini dibuat aktivitas penambangan masih tumbuh subur.


Bukankah tambang ini setidaknya mampu menyerap banyak tenaga kerja sehingga mereka tidak perlu menjadi buruh migran? Namun tambang di Indonesia telah menjadi rahasia umum sebagai salah satu proyek kapital. Hanya korporasi, perangkat desa, atau orang dengan modal yang banyak bisa menikmati eksploitasi ini. Andai saja perizinan tambang ini ditunjukan untuk masyarakat Tanjung Sari secara umum dan bukan dimiliki perusahaan atau perseorangan, mungkin mampu untuk menyumbang katong pendapatan masyarakat Tanjung Sari. Terhadap izin pertambangan ini bukan hal mustahil jika masyarakat Tanjung Sari memiliki kesadaran lebih untuk menjadikannya sebagai tambang yang dikelola secara bersama.

 
Kabarnya tambang yang ada di timur mampu memasok batu hingga 30 truk dalam sehari. Jika 1 truk dihargai Rp 2.00.000 maka dalam sehari tambang itu mendapatkan omset Rp 6.000.000.

Selain tambang batu dan pasir, ada sektor lain yang cukup potensial. Yakni lahan tebu yang luas. Ada beberapa hektar lahan tebu  yang terdapat di desa Tanjung Sari. Hal ini sepertinya menarik untuk dicermati lebih rinci, begini perincian kalkulasi tebu di desa Tanjung Sari itu:

 
Kira-kira 1 kotak luasnya 375 m2 dihargai dengan Rp 1.500.000 dalam satu tahun. Dan untuk 1 hektar membutuhkan 7 kotak, berarti  Rp 1.500.000X7 sama dengan Rp 10.500.000. Artinya petani yang mempunyai lahan 1 hektar untuk perkebunan tebu rata-rata mereka mengantongi uang sebesar Rp 10.500.000 dalam periode waktu satu tahun. Artinya penghasilan per bulan kurang dari 1 juta. Padahal kebun tebu itu bisa diubah untuk lahan pertanian dengan jenis tanaman yang lain yang lebih potensial. 


Sejarah perkebunan tebu di Indonesia punya sejarah yang manarik. Misalnya dari skripsi Soe Hok Gie Di Bawah Lentera Merah;


Pada tahun 1917 sebagian besar perkebunan Jawa disulap menjadi lahan tebu. Sistem monopoli yang digunakan saat itu tentu merugikan petani. Sistem sewa lahan tebu oleh pemerintah Hindia Belanda tidak sebanding dengan hasil yang petani peroleh. Bahkan pihak koloni cenderung mengekploitasi petani. Petani harus bekerja sendiri di ladangnya. Seperti kebun tebu di Tanjung Sari, tentu adalah warisan dari sejarah kolonial.


Dari pemaparan di atas, sebetulnya lapangan kerja itu tersedia di  Tanjung Sari: lahan-lahan pertanian yang luas, dan tambang batu. Sayangnya tambang batu yang ada di sana dimonopoli oleh beberapa pihak saja. Akibatnya, warga Tanjung Sari alih-alih ikut menikmati hasil tambang itu, mereka cuma bisa melihat truk-truk pengangkut batu hilir-mudik di jalan desa mereka, sementara truk-truk itu mengangkut batu-batu yang dikeruk oleh beberapa pihak dari alam desa mereka. Jelas, sebagian besar masyarakat di Tanjung Sari dirugikan oleh aktivitas pertambangan itu, sebab keuntungan dari pertambangan itu masuk ke kantong beberapa orang saja.


Hal semacam ini banyak kita temukan di daerah-daerah lain yang memiliki potensi serupa yang juga banyak mengalami nasib yang sama. Maka wajar saja jika banyak masyarakat yang lebih memilih jadi buruh migran daripada di desa yang jelas-jelas tidak menguntungkan mereka.


*Artikel ini saya tulis ulang dari arsip 2014 ketika saya masih berproses di pers kampus.