Andai kau di sini, aku ingin berbagi keluh kesah tentang
hidup dan pengertiannya yang rumit. Napasku makin sesak dari hari ke hari, menghirup
polusi dari mesin industri. Gerakku makin susah, ruang terasa makin sempit,
terbentur dinding di sana-sini. Terlalu banyak polusi, terlalu banyak dinding
yang membatasi kita. Apa aku sanggup melewati hari-hari keras tanpa
kehadiranmu?
Merokok dalam kesendirian, tak
seekor kucing pun menemani. Membeli L.A
Lights di warung sebelah. Melihat orang-orang datang dan pergi. Berangkat
ke kantor, pulang dari pabrik. Dan sebagian kecil orang yang kita kenal sebagai
tokoh politik sedang rapat dalam ruang birokrasi dan berusaha mengatur ruang privasi.
Politik menjadi terlalu kejam dan jadi alat kepentingan sebagian kecil orang.
Apa kau sanggup melewati hari-hari keras tanpa kehadiranku?
Kita pernah bertemu di Jl. Pramuka,
kulihat wajahmu memar lelah digebuki malam, dikejar deadline skripsi, katamu. Kau sedang mengerjakan skripsi tentang
bahasa. Aku ingin mengajakmu ke pantai, agar sedikit terobati lelahmu. Dan
kubelikan kembang paling cantik. Menghargai keperempuanmu. Dan sekejap kita
menikmati hidup ini karena hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya.
Tapi, sekejap kemudian kita memikirkan bagaimana hidup ideal. Hidup ideal tanpa
dijerat urusan material. “Apa ada kehidupan yang seperti itu?” tanyamu.
Jika ada kehidupan ideal, pastilah kita
tak perlu pura-pura peduli pada penderitaan orang lain. Karena pada masa itu,
kehidupan telah menjadi setara. Tak
seperti dahulu kala, tak seperti Gadis
Pantai Pramoedya yang selalu
merendah dan menurut pada Bendoro Bupati
Blora. Perempuan dan laki-laki adalah kembang dunia dengan warna-warni yang
unik, saling melengkapi, bukan saling menindas. Begitu pula kehidupan bersama
di atas bumi, punya tanggung jawab yang
sama, punya hak yang sama. Tapi sayang, kehidupan ideal cuma bisa kita temukan
di buku, belum untuk hari ini, tapi besok, kita tak pernah tahu.
Di Rumah Makan Bening, kita pernah
bicara soal masa depan anak-anak, bagaimana jika mereka tinggal di lingkungan tak sehat,
karena desa sudah tak ramah lagi, dan kota menjadi belantara. Apa kita bisa
betanggung jawab atas kehidupan mereka, atau kita tak perlu punya anak. Karena
tugas orangtua lebih berat lagi.
Membesarkan anak-anak, bukan cuma biologis, tapi juga mental dan
spiritualitasnya agar jadi manusia yang purna. Tapi, apa kita sanggup? Sedangkan
kita terus terombang-ambing dalam
keadaan yang tak jelas.
Kukira kita akan terus bersama-sama sepanjang waktu tak ada The most loneliest day of my life... seperti dalam lirik Lonely Day System of a Down. Tapi, suatu pagi aku mendengar kabar bahwa kau sudah tak di kota ini lagi. Kau meninggalkanku. Aku bersyukur, sekaligus berduka, bersyukur karena urusan beratmu telah selesai, berduka karena kau meninggalkanku, dan kau kembali ke kampung halaman. Setelah itu, katamu, kau ingin mendidik anak-anak di kampung halamanm. Dan sesekali mempertanyakan tentang makna hidup ini dengan pengertiannya yang rumit.
Kukira kita akan terus bersama-sama sepanjang waktu tak ada The most loneliest day of my life... seperti dalam lirik Lonely Day System of a Down. Tapi, suatu pagi aku mendengar kabar bahwa kau sudah tak di kota ini lagi. Kau meninggalkanku. Aku bersyukur, sekaligus berduka, bersyukur karena urusan beratmu telah selesai, berduka karena kau meninggalkanku, dan kau kembali ke kampung halaman. Setelah itu, katamu, kau ingin mendidik anak-anak di kampung halamanm. Dan sesekali mempertanyakan tentang makna hidup ini dengan pengertiannya yang rumit.
Sedangkan aku, membusuk di kota ini.
Kepalaku jadi miring, dikerjai dosen dan birokrasi kampus yang rumit. Aku
sempat berpikir untuk meninggalkan urusan membosankan ini, dan mengejarmu ke
kampung halaman. Tapi kuurungkan niat itu, karena setiap hubungan yang sehat,
selalu ada ujian, dan ujian kita adalah jarak.
Seminggu setelah kau pulang ke
kampung halaman, aku pergi ke pantai sendirian tanpa mengabarimu, untuk
menghibur diri sendiri. Aku melihat ombak. Ombak yang keras. Berkali-kali ombak
membentur batu karang. Terus… dan terus. Aku ingat suatu hari, saat kita makan
Soto Borang, kau mengatakan, “perasaan adalah gelombang naik dan turun. Tak
pernah stabil.”
Kupikir ombak di pantai itu adalah
perasaan kita. Kita bisa mendengar gemuruhnya. Dan saat ombak itu, menyatu,
teguh, tertuju pada satu hal, akan menjadi energi yang besar. Apa yang kita harapkan dari energi
yang besar, satu-satunya yang kita inginkan adalah menghancurkan dinding.
Menghancurkan apa pun yang menghalangi langkah kita.
Kau pernah sekali memberi kabar
sejak kepulanganmu. Katamu hari-hari menjadi sepi. Terlebih saat mendengar Wish You Were Here Pink Floyd kau merasa
hidup sendiri. Terasing dari dunia ini. “Atau aku yang sedang mengasingkan
diri,” katamu, “aku merasa aku sedang melawan dunia. Atau dunia yang
melawanku?”
Dunia yang mengasingkan kita, atau
kita yang diasingkan oleh dunia, tak penting lagi bagiku, asal kita selalu
bersama-sama. Jarak tak akan membuat perasaan kita berubah.
Dan saat kita bersama, kita sedang mengumpulkan
energi seperti ombak di pantai. Terus, dan terus… melawan tembok yang
mengahalangi kita. Dan tembok itu pada akhirnya sedikit demi sedikit, meski
perlu melewati puluhan generasi, tembok itu pasti hancur. Dan kita berbagi dunia bersama-sama. Seperti
lirik akhir, Imagine John Lennon, Sharing all the world… and the world live as
one.
Andai kau di sini… tapi kau ada di
sana di suatu tempat yang jauh. Jarak memisahkan kita. Satu-satunya yang
kuharap dari dirimu adalah perasaan dan api cinta yang menyala dan gelombang perasaan bagaikan ombak.
Kusharap, begitu.
Tuhan memberimu luka untuk disembuhkan Tuan. Bukan untuk dipelihara.
ReplyDeleteMeratapi lukamu hanya akan memperdalam sayatannya. Memperjelas rasa sakitnya.
Yang harus kau lakukan adalah mengalahkannya. Maafkan dia yang telah memberimu luka.
Takdir Tuhan selalu adil Tuan. Hanya saja kita yang sering salah mengartikannya.
Hidup akan tetap berjalan. Baik itu dengan keberadaanmu atau tidak sekalipun. Kau harus memilih apakah akan tetap bersembunyi dalam liang lukamu, atau keluar menghadap langit dan menyembuhkannya.