2 November 2019

Kucing

Hasil gambar untuk kucing surealisme

Ketertarikan saya terhadap kucing karena tante saya. Saya mempunyai tante yang penyayang terhadap kucing. Merawatnya sehingga kucing-kucing tante selalu sehat dan bulunya lembut. Tante suka mengelus bulu kucing yang lembut. Melihat hubungan tante yang harmonis dengan kucing membikin saya kepingin punya kucing sendiri.

Saya mengambil  satu kucing dari rumahnya  dan membawanya pulang. Kata tante, kucing yang saya bawa belum cukup umur. Saya tak mau mendengar. Kucingnya saya bawa dalam dekapan. Sepanjang perjalanan saya merasa bahagia sebab saya mempunyai kucing.

Satu minggu, dua minggu, kucing itu mulai tak terawat. Dihinggapi penyakit flu. Tak doyan makan. Padahal kukasih ikan laut, makanan yang paling disukai oleh kucing. Namun  kucing itu tak menunjukan gejala akan sembuh kembali. Ia tetap dihinggapi penyakit flu. Ia tetap tak doyan makan. Penyakit itu membuat tubuhnya sekurus rambut.

Hilang harapanku bakal bisa membelai kucing gemuk dengan bulu yang lembut. Memandikannya dengan shampo sehingga membikin bulunya jadi wangi. Kucing yang kubawa dari rumah tante itu makin menunjukan daya hidup yang rendah sekali bahkan dihadapan ikan laut. Padahal kucing yang sehat, harusnya menggeram-geram saking bergairahnya tak ingin kucing lain merebut ikan lautnya. Tapi kucingku justru menggelepar seperti kain kusut.

Beberapa hari kemudian kucingku mati. Sebagaimana penghormatanku pada makhluk yang indah itu, maka kukuburkan mayatnya dengan baik-baik. Aku pernah mendengar cerita dari orang-orang bahwa hewan yang sekarat jika dibaringkan di bawah naungan terong nyawanya bisa balik ke dalam tubuh. Maka sebelum kukubur mayat kucingku, kubawa mayatnya terlebih dahulu  ke pelataran. Kucari terong yang paling hijau dan paling besar. Kutaruh mayatnya di bawah naungan daun-daun terong. Kulihat langit tak berubah. Tak ada tanda-tanda kilatan mukjizat. Mati sudah kucingku.

Kuambil mayatnya. Kugali tanah seukuran tubuhnya. Kubaringkan tubuhnya dalam lubang. Kutaburi bunga. Dan sebelum mengubur mayatnya dengan tanah, sekali lagi kulihat langit. Tetap tak berubah. Masih langit yang bertabur awan putih berarak. Tak akan ada yang berubah. Kucingku tak akan bangkit dari kuburnya. Maka ku uruk  tubuhnya dengan tanah. Perlahan-lahan mayatnya mulai tak terlihat. Perlahan-lahan ia terkubur seutuhnya.

No comments:

Post a Comment