Ketika membaca Bumi
Manusia, sejak paragraf pertama, saya langsung terpikat. Pram mempunyai
strategi literer indah dan cerdas. Diawal karirnya Idrus pernah berseloroh pada
Pram, “kamu itu bukan mengarang tapi berak.” Tetralogi Buru adalah berak paling
sukses sepanjang karir Pram.
Minke digambarkan sebagai seorang pribumi Jawa yang
doyan—bahkan tersobsesi dengan semangat ilmu pengetahuan Barat. Ia salah
seorang pribumi yang beruntung dapat mengenyam pendidikan di HBS. Perlu
diketahui bahwa di jaman Hindia Belanda hanya anak orang-orang berpangkat atau
anak priyayi yang dapat sekolah di HBS. Karena Minke anak seorang Bupati, maka
ia pun sekolah di HBS.
Bumi Manusia merekam masa akhir Minke di HBS yang bagi
seorang anak seumur Minke ia harus dihadapkan dengan konflik-konflik yang
fantastis. Pendeknya, Minke dan nasib yang mengelilinginya adalah keajaiban.
Pertemuan Minke dengan Nyai Ontosoroh bermula ketika Rudy
Suhrof seorang totok (keturunan
Belanda asli) teman sekelas Minke di
HBS mengajaknya bermain ke rumah Rudy Mellema.
Pada mulanya Suhrof berniat mengajak Minke untuk mengerjainya, sebab
Mellema mempunyai seorang adik bernama Annelies yang diidam-idamkan oleh
Suhrof, dan pikirnya seorang pribumi seperti Minke pasti menyenangkan
dipermalukan di depan totok dan indo. Tangan takdir berkata lain,
Annelies ternyata lebih menyenangi pribumi meski secara relasi sosial indo lebih dihormati ketimbang primbumi,
untuk alasan ini Pram menjelaskan panjang lebar kondisi psikologis yang dialami
Annelies mengapa ia lebih tertarik pada pribumi.
Perlu di ketahui bahwa Mellema dan Annelies adalah
anak Nyai Ontosoroh. Nyai adalah gundik atau budak. Masalahnya pada saat itu
hukum perbudakan sudah dihapus di Barat maka Nyai atau gundik statusnya menjadi
paradoks di depan hukum. Nanti, persoalan inilah yang membuat Minke semakin
dekat dengan keluarga Nyai, bahkan akhirnya Minke menjadi menantu Nyai.
Pram melukiskan Nyai Ontosoroh sebagai pribadi yang
menakjubkan. Ia adalah adikodrati dari pribadi perempuan yang melampaui
jamannya. Pram tak terlalu menjelaskan secara mendalam soal transaksi seks
antara laki-laki dan perempuan dan motif dan implikasinya. Soal transaksi seks,
koita bisa membacanya dalam novel Eka Kurniawan Cantik itu Luka. Maya Dewi atapun Nyai Ontosoroh punya kesetaraan nasib,
mereka sama-sama sebagagi korban transaksi seks, yang berbeda adalah latar
sosial dan bagaimana mereka merespon keadaannya. Nyai Ontosoroh melampiaskan
dengan mempelajari pengetahuan-pengetahuan Barat, melalui cara itu pula ia
melampiaskan dendam. Sementara Maya Dewi menekuni pelacuran. Memanfaatkan daya
tarik fisiknya sebaik mungkin, karena takdir mempunyai fisik indah itulah ia
menjadi korban, dan dengan memanfaatkan daya fisik pula ia melampiaskan dendam.
Cantik itu Luka lebih mendalami sisi psikologis, sedangkan Nyai Ontosoroh lebih
pada emansipasi antara laki-laki dan perempuan.
Kedua tokoh yang mengundang simpati ini, sama-sama
terlahir di masa sejaran politik, sehingga kesadaran psikologisnya juga
berkaitan dengan sejarah politik. Nyai Ontosoroh adalah tokoh di mana kaum
pribumi masih lelap dalam tidur panjangnya. Sebagai seorang perempuan, tentu
suatu kejanggalan bahwa ia lebih dahulu menyadari hak-haknya sebagai manusia,
bahkan ia memperjuangkan haknya di depan hukum, yang belum pernah dilakukan
satu pun perempuan di Jawa pada saat itu.
Saya teringat dengan tiga gadis bersaudara dalam Serat Centhini. Jika kedua tokoh Nyai
Ontosoroh dan Maya Dewi sepanjang narasinya bergerak di atas kesadaran politik maka,
Baniyem, Banikem, dan Bayani adalah perempuan-perempuan murni dengan kesadaran
seks. Baniyem, Banikem, dan Bayani
muncul begitu saja sebagai seorang perempuan, mereka adalah tokoh-tokoh dalam Serat Chentini yang sering luput dari
perhatian. Meski mereka adalah tokoh-tokoh pemanis saja tapi bagi saya mereka
memerankan kondisi psikologis yang penting. Mereka adalah alegori tanpa
embel-embel kesadaran yang rumit, melainkan lahir dari kesadaran hewani yang
murni.
Dideskripsikan sebagai perempuan buruk rupa, yang bagi
lelaki normal tak mengundang gairah. Cerita bermula ketika Jayengraga dan
Jayengresmi dan paman dan seorang pembantu menginap di rumah orangtuanya. Suatu
kali mereka pernah melihat orangtuanya berhubungan badan. Karena melihat ada
tamu laki-laki di rumah mereka, maka mereka kepingin mempraktekan adegan
tersebut dan ketika Jayengraga berbaring di tempat tidur yang disedikan tuan
rumah, mereka menyusulnya.
Jayengresmi yang sebelumnya sudah berkali-kali
melakukan hubungan badan ia segara sadar gelagat bocah-bocah bau kencur itu.
Dikatakan bahwa sebetulnya Jayengraga tak punya minat pada mereka, ia
melakukannya semata-mata demi kepentingan mereka, ia kasihan membayangkan kelak
dengan tampilan yang semacam itu mereka bakal jadi perawan tua dan sepanjang
hidupnya tak pernah merasakan berhubungan badan. Jayengraga mengajari mereka
sebagai seorang guru seks yang baik.
Jika nasib Baniyem dan adik-adiknya dibaca pada masa
lalu, sekilas terkesan tak bermakna memang itu adalah hal yang wajar. Tapi kita
membaca lagi mereka di masa kini, maka akan kita temukan relevansi yang unik,
sebab kecantikan kini lebih rumit
lagi lebih dari sekedar fasilitas penunjang seks yang dimiliki oleh perempuan,
dalam industri kapitalis perannya sangat
penting, ada semacam otoritas dari kekuatan kapitalisme untuk menggiring makna kecantikan sebagaimana yang mereka
kehendaki demi kepentingan kapitalisme. Iklan-iklan produk kapitalisme sering
memanfaatkan makna kecantikan
sehingga derajat kecantikan dibawa ke tempat yang lebih rendah lagi yakni kecantikan adalah sihir agar dagangan
laku. Dengan cara yang masif dan terus-menerus maka kecantikan pada akhirnya akan bermakna sesuai definisi dari
kapitalisme sehingga perempuan yang menghendaki dirinya cantik mereka harus
memenuhi syarat-syarat yang sudah ditetapkan oleh otoritas kapitalisme. Mereka yang
tak punya syarat-syarat untuk disebut cantik bakal terasing dari dunianya. Sedangkan
dalam Serat Centhini, kisah Baniyem,
Banikem, dan Bayani, untuk menjadi perempuan mereka tak perlu memenuhi syarat
apa pun, cukup menjadi mereka sendiri.
No comments:
Post a Comment