9 November 2019

Membaca Perempuan


Ketika membaca Bumi Manusia, sejak paragraf pertama, saya langsung terpikat. Pram mempunyai strategi literer indah dan cerdas. Diawal karirnya Idrus pernah berseloroh pada Pram, “kamu itu bukan mengarang tapi berak.” Tetralogi Buru adalah berak paling sukses sepanjang karir Pram.

Minke digambarkan sebagai seorang pribumi Jawa yang doyan—bahkan tersobsesi dengan semangat ilmu pengetahuan Barat. Ia salah seorang pribumi yang beruntung dapat mengenyam pendidikan di HBS. Perlu diketahui bahwa di jaman Hindia Belanda hanya anak orang-orang berpangkat atau anak priyayi yang dapat sekolah di HBS. Karena Minke anak seorang Bupati, maka ia pun sekolah di HBS.
Bumi Manusia merekam masa akhir Minke di HBS yang bagi seorang anak seumur Minke ia harus dihadapkan dengan konflik-konflik yang fantastis. Pendeknya, Minke dan nasib yang mengelilinginya adalah keajaiban.

Pertemuan Minke dengan Nyai Ontosoroh bermula ketika Rudy Suhrof seorang totok (keturunan Belanda asli) teman sekelas Minke di HBS mengajaknya bermain ke rumah Rudy Mellema.  Pada mulanya Suhrof berniat mengajak Minke untuk mengerjainya, sebab Mellema mempunyai seorang adik bernama Annelies yang diidam-idamkan oleh Suhrof, dan pikirnya seorang pribumi seperti Minke pasti menyenangkan dipermalukan di depan totok dan indo. Tangan takdir berkata lain, Annelies ternyata lebih menyenangi pribumi meski secara relasi sosial indo lebih dihormati ketimbang primbumi, untuk alasan ini Pram menjelaskan panjang lebar kondisi psikologis yang dialami Annelies mengapa ia lebih tertarik pada pribumi.

Perlu di ketahui bahwa Mellema dan Annelies adalah anak Nyai Ontosoroh. Nyai adalah gundik atau budak. Masalahnya pada saat itu hukum perbudakan sudah dihapus di Barat maka Nyai atau gundik statusnya menjadi paradoks di depan hukum. Nanti, persoalan inilah yang membuat Minke semakin dekat dengan keluarga Nyai, bahkan akhirnya Minke menjadi menantu Nyai.

Pram melukiskan Nyai Ontosoroh sebagai pribadi yang menakjubkan. Ia adalah adikodrati dari pribadi perempuan yang melampaui jamannya. Pram tak terlalu menjelaskan secara mendalam soal transaksi seks antara laki-laki dan perempuan dan motif dan implikasinya. Soal transaksi seks, koita bisa membacanya dalam novel Eka Kurniawan Cantik itu Luka. Maya Dewi atapun Nyai Ontosoroh punya kesetaraan nasib, mereka sama-sama sebagagi korban transaksi seks, yang berbeda adalah latar sosial dan bagaimana mereka merespon keadaannya. Nyai Ontosoroh melampiaskan dengan mempelajari pengetahuan-pengetahuan Barat, melalui cara itu pula ia melampiaskan dendam. Sementara Maya Dewi menekuni pelacuran. Memanfaatkan daya tarik fisiknya sebaik mungkin, karena takdir mempunyai fisik indah itulah ia menjadi korban, dan dengan memanfaatkan daya fisik pula ia melampiaskan dendam. Cantik itu Luka lebih mendalami sisi psikologis, sedangkan Nyai Ontosoroh lebih pada emansipasi antara laki-laki dan perempuan.

Kedua tokoh yang mengundang simpati ini, sama-sama terlahir di masa sejaran politik, sehingga kesadaran psikologisnya juga berkaitan dengan sejarah politik. Nyai Ontosoroh adalah tokoh di mana kaum pribumi masih lelap dalam tidur panjangnya. Sebagai seorang perempuan, tentu suatu kejanggalan bahwa ia lebih dahulu menyadari hak-haknya sebagai manusia, bahkan ia memperjuangkan haknya di depan hukum, yang belum pernah dilakukan satu pun perempuan di Jawa pada saat itu.

Saya teringat dengan tiga gadis bersaudara dalam Serat Centhini. Jika kedua tokoh Nyai Ontosoroh dan Maya Dewi sepanjang narasinya  bergerak di atas kesadaran politik maka, Baniyem, Banikem, dan Bayani adalah perempuan-perempuan murni dengan kesadaran seks.  Baniyem, Banikem, dan Bayani muncul begitu saja sebagai seorang perempuan, mereka adalah tokoh-tokoh dalam Serat Chentini yang sering luput dari perhatian. Meski mereka adalah tokoh-tokoh pemanis saja tapi bagi saya mereka memerankan kondisi psikologis yang penting. Mereka adalah alegori tanpa embel-embel kesadaran yang rumit, melainkan lahir dari kesadaran hewani yang murni.

Dideskripsikan sebagai perempuan buruk rupa, yang bagi lelaki normal tak mengundang gairah. Cerita bermula ketika Jayengraga dan Jayengresmi dan paman dan seorang pembantu menginap di rumah orangtuanya. Suatu kali mereka pernah melihat orangtuanya berhubungan badan. Karena melihat ada tamu laki-laki di rumah mereka, maka mereka kepingin mempraktekan adegan tersebut dan ketika Jayengraga berbaring di tempat tidur yang disedikan tuan rumah, mereka menyusulnya.
Jayengresmi yang sebelumnya sudah berkali-kali melakukan hubungan badan ia segara sadar gelagat bocah-bocah bau kencur itu. Dikatakan bahwa sebetulnya Jayengraga tak punya minat pada mereka, ia melakukannya semata-mata demi kepentingan mereka, ia kasihan membayangkan kelak dengan tampilan yang semacam itu mereka bakal jadi perawan tua dan sepanjang hidupnya tak pernah merasakan berhubungan badan. Jayengraga mengajari mereka sebagai seorang guru seks yang baik.

Jika nasib Baniyem dan adik-adiknya dibaca pada masa lalu, sekilas terkesan tak bermakna memang itu adalah hal yang wajar. Tapi kita membaca lagi mereka di masa kini, maka akan kita temukan relevansi yang unik, sebab kecantikan kini lebih rumit lagi lebih dari sekedar fasilitas penunjang seks yang dimiliki oleh perempuan, dalam industri kapitalis perannya  sangat penting, ada semacam otoritas dari kekuatan kapitalisme untuk menggiring makna kecantikan sebagaimana yang mereka kehendaki demi kepentingan kapitalisme. Iklan-iklan produk kapitalisme sering memanfaatkan makna kecantikan sehingga derajat kecantikan dibawa ke tempat yang lebih rendah lagi yakni kecantikan adalah sihir agar dagangan laku. Dengan cara yang masif dan terus-menerus maka kecantikan pada akhirnya akan bermakna sesuai definisi dari kapitalisme sehingga perempuan yang menghendaki dirinya cantik mereka harus memenuhi syarat-syarat yang sudah ditetapkan oleh otoritas kapitalisme. Mereka yang tak punya syarat-syarat untuk disebut cantik bakal terasing dari dunianya. Sedangkan dalam Serat Centhini, kisah Baniyem, Banikem, dan Bayani, untuk menjadi perempuan mereka tak perlu memenuhi syarat apa pun, cukup menjadi mereka sendiri.

No comments:

Post a Comment