22 June 2018

Perempuan di Balik Jendela


Kisah ini tepatnya di sebuah kafe langgananku. Di mana aku sering memandang ke tepi jalan melalui jendela. Padahal sebelumnya aktivitasku di kafe hanya sebatas menyedu secangkir kopi sampai habis. Hingga suatu hari tanpa sengaja mataku menemukan seorang perempuan yang amat cantik. Berjalan melintas di depan kafe.

Sejak peristiwa itu intensitasku ke kafe makin sering. Mulanya hanya sekali dalam seminggu, tapi sejak kejadian itu, tiap hari aku meluangkan waktu pergi ke kafe. Sudah seperti ibadah saja, Memandangi jendela hingga aku hampir hafal detail bintik cat yang menempel di ambangnya.

Sayangnya, setelah berulang kali aku menemukan dia melintas di depan kafe ternyata keberanianku hanya sebatas memandangnya.

Belum ada keinginan untuk mengenalnya lebih jauh. Misalnya dengan keberanian pas-passan keluar ke jalan meminta kontak yang bisa dihubugi. Atau dengan cara-cara semisal yang bisa mendekatkan. Seandainya waktu itu ada yang mengamati gerak-gerikku, pastilah tingkahku terlihat sangat konyol.

Harapan yang paling besar setelah misi ini selesai yaitu bisa menjadi kekasihnya. Sepanjang pengamatan, secara fisik dia telah memenuhi kriteriaku yang amat rumit. Bermata sipit, alami, tinggi, kulit sawo matang, jawa, cerdas.

Dari tumpukan buku yang selalu di impitnya dugaanku dia perempuan cerdas. Semacam novel dan buku filsafat. Satu di antaranya aku sempat membaca judulnya: 1984; Geogre Orwell.

Lalu aku mulai berspekulasi tentang dirinya. Perempuan yang menyukai filsafat dan seni, punya kecenderungan romantis sekaligus seorang yang terutup. Oleh karena itu aku sedikit berhati-hati. Sebenarnya sudah ada puluhan rencana untuk mendekatinya. Salah satunya pura-pura menabraknya dari arah depan. Adegan selanjutnya pura-pura membantu memungut buku yang terjatuh. Tapi bukanya adegan seperti itu sering diperagakan di sinetron.

Tiap kali ia melewati kafe jantungku seperti di pompa darahku mengalir lebih deras. Kian hari perasaanku semakin menumpuk-numpuk. Menunggu Tuhan menakdirkan pertemuan alami dengannya. Sebenarnya aku cuma berharap agar kisah cintaku ini tidak seperti kisah cinta yang beredar di pasaran. Melainkan, sebuah perjumaan alami. Karena meskipun banyak menu yang disajikan, aku selalu setia memilih kopi tubruk darpada yang lain. Entah kenapa aku sangat tergila-gila dengan kealamian.

Oleh karena itu aku rajin datang ke kafe semata-mata mendekati pertemuan alami dengannya. Rencana konyol yang pernah aku susun sudah tidak berlaku lagi. Suatu hari aku menemukan dia tengah terguyur hujan deras. Pakaianya basah kuyup, jalanya cepat-cepat. Waktu itu aku sudah berdiri merencanakan sebuah skenario penolongan. Tapi aku pikir itu bukan pertemuan yang alami. Aku khawatir nantinya persis seperti adegan di novel dan film romantis. Akhirnya niat itu aku urungkan.

Esoknya aku tidak mendapati perempuan itu berjalan melintas di depan kafe. Dugaanku dia sedang terkena demam atau flu gara-gara kehujanan kemarin. Sebagai seorang yang mencintainya, aku jadi gelisah. Jangan-jangan dia sakit parah.

Berkali-kali, aku mengaduk cangkir kopi padahal gula sudah larut sejak tadi. Memandang tepi jalan melalui jendela. Memandang lagi, mengaduk, memandang lagi, mengaduk. Semacam perasaan gelisah dan perasaan yang lain, mungkin rindu. Kala itu aku membayangkan adegan pertemuan. Menjabat tangannya, “perkenalkan namaku Sidi, namamu siapa?” tanyaku.

“Namaku Laras. Sidi? Nama yang aneh.” Jawabnya tersenyum.

“Kalau di Melayu nama itu tidak aneh. Kata orangtuaku ‘Sidi’ diambil dari nama ‘Ajo Sidi’ dikutip dari cerpen ‘Robohnya Surau Kami’, pengarangnya A.A Navis.”

“Berarti kamu laki-laki dengan ucapan sembrono itu ya?” kini senyumnya lebih lebar.

“Terserah kamulah!” candaku membalas pertanyaanya, “Laras, ngomong-ngomong besok ada waktu luang. Aku ingin traktir kamu kopi?”

“Ya kebetulan ada waktu luang, di mana?”

“Kafe sebelah itu.” aku menunjuk kafe langgananku.

“Baiklah,” jawab Laras, “oh iya kita lanjut besok saja ya. Ini masih banyak kerjaan.” Laras pergi meninggalkan sebatang harapan beraroma manis.

Tanpa aku sadari ternyata aku sedang tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan suatu peristiwa dengan perempuan itu. Harapan yang kian menumpuk tapi tak tercapai kadang butuh pelampiasan untuk meredakannya. Salah satunya dengan berkhayal. Kopi yang tadi mengepul asapnya sudah mereda. Tinggal riak hitam warna kopi yang sesekali memantulkan bayangan cahaya. Hari ini dia benar-benar tidak ada.


***

Hari berikutnya seperti biasa aku memesan secangkir kopi, memilih meja dekat jendela. Menyandarkan punggung di kursi, kemudian mendengarkan lantunan lagu yang disedikan kafe. Sesekali mengamati pengunjung lain. Lalu kembali melempar padangan ke jendela yang mengarah langsung ke jalan. Dalam penglihatanku jendela menjadi kanvas, lalu di kacanya tengah aku lukis seorang perempuan berjalan sangat anggun.

Di dalam bingkai yang berupa jendela itu, wajahnya amat manis, kali ini rembulan yang paling terangpun kalah cantik dengannya. Dia selalu menatap ke arah depan. Seandainya saja dia menatap ke arah kafe. Atau sekali saja dia menoleh, pastilah, mata kita akan saling menemukan dalam tatapan singkat. Pada tatapan singkat itu aku bisa saja menyisipkan kode rahasia. Kemarilah perempuan, bukannya di mataku kamu menemukan cinta? Tapi kemudian dia menghilang di balik jendela.

Di kafe ini aku menghabiskan puluhan cangkir kopi, membuat puluhan rencana pertemuan, dan puluhan puisi yang tidak pernah rampung. Setiap sampai bait terakhir wajah perempuan itu memenuhi kertasku. Dengan segala cara, dia menahan puisiku agar tidak pernah selesai. Dan menggagalkan setiap rencana pertemuan.***
 
2016



Pembacaan "Perempuan di Balik Jendela":

9 February 2018

Masyarakat Berambut Gondrong


Negara pernah mencampuri aktivitas privasi warganya dengan sangat ekstrim: ‘Di larang Berambut Gondrong!’. Pada tahun 1973, pemerintah menargetkan bersih dari rambut gondrong. Aparatus negara seperti ABRI melakukan razia di jalan-jalan untuk melakukan operasi ‘rambut gondrong’. Jika ada yang kedapatan berambut gondrong, maka akan dicukur di tempat. Hal ini dicatat oleh Aria Wiratma Yudhistira dalam bukunya; ‘Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru Terhadap Anak Muda Awal 1970-an’.


Bagi saya, aktivitas berambut gondrong menandai beberapa hal dan itu bukan hanya soal politik, ideologi, atau spirititualitas, tapi juga murni semata-mata sebagai gaya.


Rambut gondrong yang murni sebagai gaya tentu tanpa disertai dengan motivasi ideologi atau politik atau spiritualitas trtentu. Biasanya terinspirasi dari iklan atau film atau poster. Jadi, rambut gondrong yang murni sebagai gaya ini fungsinya cuma sekadar menunjang penampilan. Berbeda dengan berambut gondrong dengan motivasi ideologi.


Fenomena berambut gondrong yang dimotivasi oleh ideologi dan politik ditandai lahirnya generasi hippies. Hippies merupakan gerakan counter-culture yang berkembang di Amerika Serikat pada era 1960-an.


Gerakan ini lahir sebagai antitesis dari generasi sebelumnya yang dinilai telah jauh dari alam tempat mereka berasal. Menurut mereka manusia modern telah dibutakan oleh ambisi menaklukkan, perang, dan menang. Oleh karena itu kemudian Hippies dikenal sebagai gerakan ‘Kiri Baru’. Budaya Hippies yang menjunjung kebebasan individu ini identik dengan rambut gondrong, perilaku seks bebas, penggunaan narkotika, dan busana yang lebar dengan warna mencolok.


Selain dua kategori tadi, ada satu kategori lagi, yakni berambut gondrong yang di motivasi oleh spiritualitas. Seorang teman ketika saya bertanya kepadanya tentang motivasinya berambut gondrong, ia menjawab, “ini sebagai ‘laku’.” Setahu saya ia memang pernah mondok di pondok salaf tradisional. Saya sendiri kurang tahu, laku seperti apa yang sedang dijalaninya. Paling tidak, saya tahu gondrongnya karena spiritualitas


Ketiga kategori tersebut bisa jadi mendistorsi makna ‘berambut gondrong’ yang lebih luas. Tapi, terlepas dari itu, ‘berambut gondrong’ sebetulnya bisa disederhanakan sebagai ‘ekspresi-diri’ . Namun, di dalam buku Yudisthira, pada masa orde baru; ternyata berambut gondrong identik dengan kriminalitas atau sesuatu yang buruk. Citra itu diperkuat lewat pembentukan opini publik lewat media massa. Bahkan, setiap pelajar sekolah wajib memangkas rambutnya dengan gaya ABRI, orang yang gondrong tidak akan dilayani di dinas pemerintahan,  artis-artis yang berambut gondrong dilarang tampil di TV.


Terlihat, pemerintahan orde baru sangat bersyahwat untuk mencampuri urusan privasi warganya atau sebetulnya ini adalah syahwat bersama? Maksud saya, selain syahwat pemerintahan orde baru, juga syahwat mayoritas masyarakat kita. Misalnya yang terjadi belum lama ini; pejabat publik yang mantan penyanyi mengikat rambutnya dengan karet, lalu hal itu mendapat tanggapan negatif dari masyarakat.


Saya pribadi, ketika sewaktu-waktu harus terlibat dalam pembiacaraan dengan kasus serupa, saya akan menjawab dengan sederhana saja, “gaya rambut macam apa pun tak akan mempengaruhi kecerdasan seseorang. Sama seperti mandi tujuh kali sehari tak akan mempengaruhi kecerdasan seseorang.”

5 January 2018

Animal Farm yang Sakarsme

Kadang saya kasihan pada babi yang sering digunakan sebagai alegori untuk menggambarkan sifat manusia, begitu pula saya kasihan pada binatang lainnya seperti; kadal, monyet, anjing, coro, dan yang lain sebagainya.

Bukankah mereka mempunyai sifat demikian itu karena tawaduk, maksudnya, mereka tidak menyalahi kodrat yang sudah digariskan oleh alam, tidak sombong dan tidak melebih-lebihkan apa yang mereka miliki. Jika monyet serakah itu memang sifatnya monyet, jika babi pemalas itu memang sifatnya babi, dan jika coro suka sembunyi di lubang pispot, bukankah begitu yang sudah digariskan oleh alam bagi kehidupan coro?

Akan jadi gempar jika ada binatang yang menyalahi kodrat alamnya. Misalnya, ada babi yang berjalan menggunakan dua kaki dan berbicara mengenai politik. Itu bakal menggemparkan dunia dan bisa dikecam babi-sesat. Sebab telah menyalahi kodrat babi yang berjalan merangkak dan berbunyi menguik-nguik dan babi seharusnya tidak berbicara mengenai politik.

Soal babi yang berjalan dengan dua kaki dan berbicara mengenai politik, ini pernah terjadi di dunia dan mungkin hanya terjadi satu kali. Riwayatnya bisa dibaca di dalam kitab ‘Animal Farm’ karya Goerge Orwell atau ‘Binatangisme’ yang diterjemahkan oleh Mahbub Djunaidi.

Saya kasih bocoran sedikit; menjelang akhir januari, tak bisa dielakan lagi bahwa memang sudah amat perlu mengusahakan gandum dari mana saja. Di hari-hari itu, babi Napoleon amat jarang muncul di muka umum. Ia banyak menghabiskan waktu di dalam gedung peternakan, yang pintu-pintunya dijaga oleh anjing-anjing yang bermuka ganas. Kalau saja ia muncul keluar, pastilah dalam gaya upacara. Dikawal oleh 6 ekor anjing yang ketat mengelilinginya… (Binatangisme, hal 88). Begitualah sedikit cuplikan riwayat babi-babi-sesat.  Sengaja bagian yang paling seru tidak saya kutip. Jika Anda penasaran sebaiknya Anda baca sendiri kitab ini .

Jika Anda sudah membaca kitab ini, saran saya, silahkan Anda membandingkan tokoh-tokoh George Orwell dengan tokoh politik kita. Adakah tokoh politik kita yang mirip dengan tokoh-tokoh George Orwell? Saya yakin Anda akan mendapatkan sebuah kebahagian jika berhasil menemukankannya, seperti ketika tanpa sengaja menemukan kalung yang hilang bertahun-tahun lalu, “Oh… ternyata ini!”

Itulah kenikmatan membaca karya sastra. Selain menghibur juga menambah asupan gizi, sehingga tidak mudah diombang-ambing oleh isu-isu politik picisan. Begitulah seharusnya karya sastra dibaca.

Sekali lagi, untuk mengakhiri tulisan ini, biarkan babi tetap menjadi bagi. Sebab jika babi berpolitik nanti akan menyalahi kodrat dan kisahnya akan ditulis seperti George Orwell menulis Animal Farm.

*Semacam resensi

4 January 2018

Nasib Tambang Batu di Desa Kami

Berdasarkan data UPT-P3TKI Surabaya tahun 2013, tercatat sebanyak 52.571 warga menjadi  buruh migran.


Di Jawa Timur terdapat 39 daerah yang berkontribusi terhadap pengiriman buruh migran. Kabupaten Malang merupakan penyumbang buruh migran paling banyak dari Jawa Timur, kemudian Kabupaten Blitar sebanyak 5.179, Kabupaten Ponorogo sebanyak 5.151 orang, serta Kabupaten Tulungagung sebanyak 3.293 orang.


Banyaknya minat masyarakat untuk menjadi buruh migran menjadi indikasi bahwa di Indonesia masih sangat minim lapangan kerja. Khususnya di daerah-daerah pinggiran masih sangat kering terhadap penyerapan tenaga kerja. Seperti halnya  data yang ditunjukan oleh UPT-P3TKI; di kabupaten Ponorogo ada sebanyak 5.151 orang menjadi buruh imigran.


Tentu itu karena mereka tidak kebagian lapangan kerja, atau karena tidak menyadari potensi yang ada di daerahnya sendiri, sehingga mereka lebih memilih menjadi buruh migran agar kesejahteraan mereka terjamin (perlu dipertanyakan definisi kesejahteraan di Indonesia itu seperti apa?). Padahal ada banyak potensi ekonomi jika dikelola dengan sungguh-sungguh bisa menyerap tenaga kerja mulai dari produksi rumahan, pertanian, bahkan pertambangan.


*

Penulis sempat berkunjung di desa Tajung Sari Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo (Mei 2014). Ternyata dari jumlah total buruh imigran di Ponorogo,  sekitar 11,65 % atau 600 buruh migran berasal dari desa Tanjung Sari. 


Memang sekilas tidak ada yang spesial di desa Tanjung Sari. Tapi sebenarnya jika diamati lebih rinci di desa Tanjung Sari menyimpan beberapa potensi mulai dari produksi kerupuk rumahan, lahan pertanian, sampai kekayaan alam berupa tambang batu dan pasir. Tambang batu dan pasir di desa ini terbagi menjadi dua titik eksploitasi, dua titik itu; di selatan dan timur desa. Di selatan beberapa tahun lalu ditutup dan akan diubah menjadi lahan sawah. Untuk di timur saat tulisan ini dibuat aktivitas penambangan masih tumbuh subur.


Bukankah tambang ini setidaknya mampu menyerap banyak tenaga kerja sehingga mereka tidak perlu menjadi buruh migran? Namun tambang di Indonesia telah menjadi rahasia umum sebagai salah satu proyek kapital. Hanya korporasi, perangkat desa, atau orang dengan modal yang banyak bisa menikmati eksploitasi ini. Andai saja perizinan tambang ini ditunjukan untuk masyarakat Tanjung Sari secara umum dan bukan dimiliki perusahaan atau perseorangan, mungkin mampu untuk menyumbang katong pendapatan masyarakat Tanjung Sari. Terhadap izin pertambangan ini bukan hal mustahil jika masyarakat Tanjung Sari memiliki kesadaran lebih untuk menjadikannya sebagai tambang yang dikelola secara bersama.

 
Kabarnya tambang yang ada di timur mampu memasok batu hingga 30 truk dalam sehari. Jika 1 truk dihargai Rp 2.00.000 maka dalam sehari tambang itu mendapatkan omset Rp 6.000.000.

Selain tambang batu dan pasir, ada sektor lain yang cukup potensial. Yakni lahan tebu yang luas. Ada beberapa hektar lahan tebu  yang terdapat di desa Tanjung Sari. Hal ini sepertinya menarik untuk dicermati lebih rinci, begini perincian kalkulasi tebu di desa Tanjung Sari itu:

 
Kira-kira 1 kotak luasnya 375 m2 dihargai dengan Rp 1.500.000 dalam satu tahun. Dan untuk 1 hektar membutuhkan 7 kotak, berarti  Rp 1.500.000X7 sama dengan Rp 10.500.000. Artinya petani yang mempunyai lahan 1 hektar untuk perkebunan tebu rata-rata mereka mengantongi uang sebesar Rp 10.500.000 dalam periode waktu satu tahun. Artinya penghasilan per bulan kurang dari 1 juta. Padahal kebun tebu itu bisa diubah untuk lahan pertanian dengan jenis tanaman yang lain yang lebih potensial. 


Sejarah perkebunan tebu di Indonesia punya sejarah yang manarik. Misalnya dari skripsi Soe Hok Gie Di Bawah Lentera Merah;


Pada tahun 1917 sebagian besar perkebunan Jawa disulap menjadi lahan tebu. Sistem monopoli yang digunakan saat itu tentu merugikan petani. Sistem sewa lahan tebu oleh pemerintah Hindia Belanda tidak sebanding dengan hasil yang petani peroleh. Bahkan pihak koloni cenderung mengekploitasi petani. Petani harus bekerja sendiri di ladangnya. Seperti kebun tebu di Tanjung Sari, tentu adalah warisan dari sejarah kolonial.


Dari pemaparan di atas, sebetulnya lapangan kerja itu tersedia di  Tanjung Sari: lahan-lahan pertanian yang luas, dan tambang batu. Sayangnya tambang batu yang ada di sana dimonopoli oleh beberapa pihak saja. Akibatnya, warga Tanjung Sari alih-alih ikut menikmati hasil tambang itu, mereka cuma bisa melihat truk-truk pengangkut batu hilir-mudik di jalan desa mereka, sementara truk-truk itu mengangkut batu-batu yang dikeruk oleh beberapa pihak dari alam desa mereka. Jelas, sebagian besar masyarakat di Tanjung Sari dirugikan oleh aktivitas pertambangan itu, sebab keuntungan dari pertambangan itu masuk ke kantong beberapa orang saja.


Hal semacam ini banyak kita temukan di daerah-daerah lain yang memiliki potensi serupa yang juga banyak mengalami nasib yang sama. Maka wajar saja jika banyak masyarakat yang lebih memilih jadi buruh migran daripada di desa yang jelas-jelas tidak menguntungkan mereka.


*Artikel ini saya tulis ulang dari arsip 2014 ketika saya masih berproses di pers kampus.

5 November 2017

“Imagine” Kritik Atas Kuasa Agama dan Negara

Saya bukan penikmat musik yang menggebu-gebu. Saya cuma penikmat musik biasa saja. Mendengar musik jika butuh.

Meskipun demikinan, saya jenis penikmat musik yang kadang-kadang perlu membaca ulasan musik sebelum mendengarkan musik. Saya perlu alasan untuk apa saya mendengar musik. Ketika mendengar musik jazz, saya perlu membaca ulasan tentang jazz. Dengan begitu saya mengerti konteks dan latar belakang lahirnya musik jazz. Konon, jazz lahir dari musisi jalanan, mereka berasal dari latar belakang budaya yang berbeda-beda. Para musisi jalanan tersebut menggunakan jazz sebagai alat komunikasi, para musisinya kebanyakan adalah kulit hitam, sementara waktu itu di Amerika (tempat jazz lahir) isu rasial sedang hangat, kulit hitam seringkali diperlakukan tidak adil. 

Kira-kira begitu cara saya menikmati musik. Semakin musik itu mempunyai konteks dan latar belakang yang kuat, bagi saya, musik itu akan semakin bernilai.

Saya tertarik mendengarkan Imagine sehabis nonton Mata Najwa (3 April 2016). Waktu itu tamunya adalah Gus Mus, seorang kiai moderat. Ketika Gus Mus ditanya tentang lagu kesukaannya, Gus Mus menjawab “Imagine”. Kemudian setelah saya mendengar Imagine, saya berkesimpulan bahwa selera musik Gus Mus rada aneh, melihat latar belakangnya sebagai kiai. Lagu tersebut mengajak pendengarnya untuk membayangkan seandainya surga dan neraka tidak ada.

Imagine there’s no heaven, It’s easy if you try, No hell below us, Above us, only sky

Padahal lirik ini kontradiktif dengan kepercayaan agama, khususnya Islam. Di dalam Islam, neraka dan surga itu ada, lantas bagaimana seorang agamawan bisa membayangkan tak ada surga dan neraka?


*

"Dor! dor! dor!"

Mark David Chapman menembak John Lennon hingga terkapar tepat setelah turun dari mobil (8 Desember 1980). Dia melakukannya enam jam setelah mendapat tanda tangan dari Lennon di album Double Fantasy. Bahkan dengan santainya, dia menjatuhkan pistol dan melanjutkan membaca novel The Catcher in the Rye. Dia menyerahkan diri tanpa perlawanan kepada polisi. Petugas kepolisian sempat kaget dan menduga bahwa pria tersebut menderita gangguan jiwa.

Bertahun kemudian terungkap motif Chapman membunuh Lennon, dia mengaku kecewa dengan Lennon yang memberi pernyataan bahwa The Beatles lebih populer ketimbang Yesus.

"Agama kristen akan hilang," ujar Lennon. "Agama itu akan hilang dan tenggelam. Saya tidak perlu beradu argumen tentang itu. Saya benar dan akan membuktikannya. Kami lebih populer dari Yesus sekarang. Saya tidak tahu siapa yang akan hilang duluan, rock n' roll atau kristen."

Dengan kata lain, Chapman membunuh Lennon demi nama Yesus. Lennon mati, dan beberapa kisah kontroversinya tetap dikenang. Begitu juga 'Imagine' masih terus didengarkan.

Ini sedikit informasi yang saya dapat mengenai John Lennon yang menyanyikan Imagine. Ternyata dia mati dengan tragis ditembak oleh penggemarnya sendiri. Saya bukan penggemar John Lennon atau The Beatles, saya menikmati Imagine sekadar ingin tahu.

Tapi jika Imagine kita tarik pada konteks tertentu dan dalam situasi tertentu, Imagine akan sangat ironi didengar. Tentang lirik yang menyoal agama dan negara. Agama dan negara sering kali jadi dasar atau alasan timbulnyanya konflik. Konflik antar bangsa (ras), sosial,  atau bahkan konflik individu seperti Champan yang karena fanatisme buta bertindak kriminal.

Begitu juga, Hitler pemimpin Nazi melakukan genosida terhadap kaum Yahudi di Jerman. Suharto membantai ribuan anggota PKI. Bahkan hingga kini, konflik antara Palestina dan Israel masih terus berlangsung. Bisakah alasan semacam ‘tanah yang dijanjikan Tuhan’ dibenarkan untuk membunuh ribuan manusia?

Masih sering kita dengar di media betapa agama  jadi alat politik oleh elit politik tertentu. Selama ada kelompok sektarian fanatik yang mempercayai sesuatu dengan kaca mata kuda, tanpa pertimbangan rasional, maka para penghasut akan menari-nari di atas kefanatikan mereka. Mereka akan menjadi massa yang digiring ke sana-sini oleh elit-elit tertentu yang ujung-ujungnya menimbulkan konflik dan bukan atas pertimbangan rasional.

Padahal nilai relatif berbeda dengan nilai absolut, agama dan negara adalah nilai relatif; multi tafsir. Maka wajar jika di dalam agama ada banyak aliran, dan di dalam bernegara ada banyak pilihan ideologis. Yang keliru adalah menganggap nilai relatif sebagai nilai absolut yang mutlak benar. Padahal tak ada yang absolut kecuali Tuhan. Dan Tuhan berbeda dengan negara.

Lennon adalah satu di antara sekian banyak kaum skeptis. Lewat lagunya, seolah-olah dia bertanya dan seolah-olah dia mengajak pendengarnya untuk berani bertanya; adakah cara selain perang dan pertumpahan darah agar hidup di bumi jadi bahagia?

Imagine there’s no countries, It isn’t hard to do, Nothing to kill or die for, And no religion, too, Imagine all the people living life in peace You.

Ketika hari ini negara masih  menjadi hantu dan agama dimanfaatkan oleh sebagian orang demi kepentingan tertentu, Imagine masih relevan untuk didengarkan.