2 October 2019

Merku Thodarchi Malai



Bercerita tentang kehidupan sehari-hari para pekerja di perbukitan perbatasan antara Tamil Nadu dan Kerala. Berlatar desa di kaki bukit. Didukung para aktor sebagian berasal dari desa bikin suasana jadi hidup. Premis cerita sederhana. Protagonis yang mempunyai nama Ranggasamy ingin punya tanah. Seperti kebanyakan buruh, Antony (Ranggasamy) dalam perannya sudah cukup menggambarkan harapan kebanyakan para buruh di desa itu; keinginan untuk punya tanah sendiri.

Film dimulai dini hari ketika sedang hujan. Saat Ibu terbangun dan bergegas membangunkan Ranggasamy dengan memukul-mukulkan tongkat. Kamera bergerak mengikuti aktivitas Ranggasamy. Setiap gerak Ranggasamy adalah duplikat  dari kegiatan sehari-hari para buruh di desa-desa antara Tamil Nadu dan Kerala.

Memulai hari dengan minum teh bersama. Meminumnya di sebuah warung kecil. Mengobrol bersama. Dan kita disuguhi dengan sedikit pertengkaran kecil di sana: seorang pembeli protes tak dilayani karena masih punya hutang.

Adegan berpindah ke rumah Ranggasamy. Ibunya sedang memasak menggunakan tungku api. Banyak bagian dari film ini terlalu terobsesi ingin menangkap sebanyak mungkin aktivitas tradisional. Aktivitas yang jarang ditemukan dalam kehidupan modern.  Seperti memasak dengan tungku, membawa uang dalam buntelan, dan hal-hal lainnya yang bersifat tradisi.

Hampir dari seluruh  Babak Satu, merekam perjalanan Ranggasamy dari Tamil Nadu ke Kerala. Perjalanan itu bertujuan mengirim segepok uang dan surat ke sisi bukit yang lain. Dan kita, penonton, disuguhi pemandangan bukit curam dan pohon-pohon yang tumbuh di sana. Termasuk cerita tentang gajah yang bikin seorang wanita jadi gila. Seekor gajah di bukit telah membunuh suaminya. Dan sejak itu dia menjadi gila.

Gambaran relasi sosial  antara buruh dan tuan tanah tampak ditekankan. Begitu pula aparat yang berpihak pada modal. Dengan otoritasnya memojokkan parah buruh.

Selain itu ada hal-hal yang berlebihan dalam film ini. Dalam sebuah dialog sarkis, majikan yang memiliki banyak tanah diidentikan sebagai lintah darat yang menghisap keuntungan kerja para buruh. Dan ketika Tuan Tanah bersekongkol dengan petinggi partai komunis yang bikin para buruh membunuh mereka dengan sadis. Hal ini bikin film jadi kasar.

Memang betul, pada akhirnya Ranggasamy punya tanah sendiri. Sayangnya, kepemilikan atas tanah tak bertahan lama. Persoalannya bukan saja manusia mengeksploitasi manusia lain. Alam pun bikin usahanya jadi sia-sia. Hujan lebat disertai angin merusak tanamannya. Dan pada akhirnya ia harus menyerah pada nasib.

Terlebih ketika hutangnya makin menumpuk pada penjual pupuk. Dia harus merelakan tanahnya untuk menebus hutang-hutangnya. Sekali lagi, Ranggasamy menyerah pada nasib. Tak punya tanah dan kembali menjadi buruh harian. Nasib buruk tak bosan menimpuki dirinya.

No comments:

Post a Comment