Memulai
hari dengan minum teh bersama. Meminumnya di sebuah warung kecil. Mengobrol bersama.
Dan kita disuguhi dengan sedikit pertengkaran kecil di sana: seorang pembeli
protes tak dilayani karena masih punya hutang.
Adegan
berpindah ke rumah Ranggasamy. Ibunya sedang memasak menggunakan tungku api. Banyak
bagian dari film ini terlalu terobsesi ingin menangkap sebanyak mungkin
aktivitas tradisional. Aktivitas yang jarang ditemukan dalam kehidupan modern. Seperti memasak dengan tungku, membawa uang dalam buntelan, dan hal-hal lainnya yang bersifat tradisi.
Hampir
dari seluruh Babak Satu, merekam
perjalanan Ranggasamy dari Tamil Nadu ke Kerala. Perjalanan itu bertujuan mengirim segepok uang dan surat ke sisi bukit yang lain. Dan kita, penonton,
disuguhi pemandangan bukit curam dan pohon-pohon yang tumbuh di sana. Termasuk
cerita tentang gajah yang bikin seorang
wanita jadi gila. Seekor gajah di bukit telah membunuh suaminya. Dan sejak
itu dia menjadi gila.
Gambaran relasi sosial antara buruh dan tuan tanah tampak ditekankan. Begitu pula aparat yang berpihak pada modal. Dengan otoritasnya memojokkan parah buruh.
Selain itu ada hal-hal yang berlebihan dalam film ini. Dalam sebuah dialog sarkis, majikan yang memiliki banyak tanah diidentikan sebagai lintah darat yang menghisap keuntungan kerja para buruh. Dan ketika Tuan Tanah bersekongkol dengan petinggi partai komunis yang bikin para buruh membunuh mereka dengan sadis. Hal ini bikin film jadi kasar.
Selain itu ada hal-hal yang berlebihan dalam film ini. Dalam sebuah dialog sarkis, majikan yang memiliki banyak tanah diidentikan sebagai lintah darat yang menghisap keuntungan kerja para buruh. Dan ketika Tuan Tanah bersekongkol dengan petinggi partai komunis yang bikin para buruh membunuh mereka dengan sadis. Hal ini bikin film jadi kasar.
Memang betul,
pada akhirnya Ranggasamy punya tanah sendiri. Sayangnya, kepemilikan atas tanah
tak bertahan lama. Persoalannya bukan saja manusia mengeksploitasi manusia
lain. Alam pun bikin usahanya jadi sia-sia. Hujan lebat
disertai angin merusak tanamannya. Dan pada akhirnya ia harus menyerah
pada nasib.
Terlebih ketika hutangnya makin menumpuk pada penjual pupuk. Dia harus merelakan tanahnya untuk menebus hutang-hutangnya. Sekali lagi, Ranggasamy menyerah pada nasib. Tak punya tanah dan kembali menjadi buruh harian. Nasib buruk tak bosan menimpuki dirinya.
Terlebih ketika hutangnya makin menumpuk pada penjual pupuk. Dia harus merelakan tanahnya untuk menebus hutang-hutangnya. Sekali lagi, Ranggasamy menyerah pada nasib. Tak punya tanah dan kembali menjadi buruh harian. Nasib buruk tak bosan menimpuki dirinya.
No comments:
Post a Comment