14 October 2019

Efek Joker

Sebagai anti-hero Joker harus berhadapan dengan Batman. Sebagai protagonis Joker menghadapi dirinya sendiri yang kompleks. Bersimpati pada Joker adalah bersimpati pada kondisi psikologisnya. Menyelam ke dalam jiwanya dan menyaksikan lubang hitam yang ditutupi tawa tersedak. Kekerasan fisik di masa kecil berakibat kerusakan otak yang membikinnya secara tiba-tiba tertawa di situasi yang tidak tepat.
 
Arthur Fleck adalah korban dari lingkungan yang tidak sehat. Dari ayah tiri yang suka memukul dan ibu dalam kondisi kejiawaan yang tidak stabil. Fakta tentang ibunya  berasal dari dokumen yang Joker rampas dari rumah sakit jiwa. Fakta yang disembunyikan ibunya hampir sepanjang hidup..

Pertama-tama adalah keluarganya sendiri yang membikinnya sakit. Lalu, lingkungan sosialnya.

Mulanya Joker adalah korban. Dia pria separuh baya yang miskin, tinggal dengan ibunya, Penny Fleck, dan kerap menjadi korban perundungan. Mereka hidup di apartemen kumuh. Hiburan Arthur hanya sebatas menonton televisi acara Murray Franklin. Dia bercita-cita jadi komedian. Sayangnya, syndrome tertawa menghalangi dirinya untuk mencapai impian. Dan karena syndrome tertawa itu dia kerap jadi korban perundungan dan dipukuli.

Potensi sakit sakit jiwa sejak kecil itu akhirnya meledak dan Joker jadi psikopat. Membunuh tiga orang kaya di dalam kereta. Di fase ini Joker menjadi subjek. Dari obyek kekerasan mental dan fisik bertranformasi jadi subjek destruktif.

Tiga orang dalam kereta itu adalah korban pertama Joker. Sebetulnya dia tidak benar-benar berniat membunuh mereka. Dia hanya sedang melindungi diri karena tiga orang itu memukulinya. Saat itu, tampak Joker belum menikmati pembunuhan itu.

Sayangnya, pembunuhan tak sengaja itu dipahami oleh massa tertindas di kota Gotham sebagai tindakan politis. Kebetulan  tiga orang yang Joker bunuh adalah orang-orang berasal dari kelas sosial elit. Mereka adalah anak buah dari Thomas Wyne, ayah dari Batman. Salah satu anggota kelas sosial elit di kota Gotham.

Dari kondisi kejiwaan Joker yang tak stabil, beralih ke kota Gotham yang ikut jadi tak stabil. Massa tertindas membikin aksi-aksi yang berujung pada kerusuhan. Massa tertindas memakai identitas sebagaimana Joker. Merias dirinya serupa badut. Jika normal dan  tidak normal ada, maka Gotham adalah tempat pertarungannya.

Ke-normal-an dipimpin oleh politisi, aparat, dan puncaknya adalah negara.  Sedangkan ke-tidak normal-an dipimpin oleh Joker. Orang-orang normal merasa terganggu karena mereka percaya Joker dan massanya berpotensi merusak kestabilan negara. Negara adalah puncak dari kewarasan yang harus dilindungi. Sedangkan kegilaan adalah chaostic yang merusak tatanan mapan. (*)

No comments:

Post a Comment