Sebagai anti-hero Joker harus berhadapan dengan
Batman. Sebagai protagonis Joker
menghadapi dirinya sendiri yang kompleks. Bersimpati pada Joker adalah
bersimpati pada kondisi psikologisnya. Menyelam ke dalam jiwanya dan
menyaksikan lubang hitam yang ditutupi tawa tersedak. Kekerasan fisik di masa
kecil berakibat kerusakan otak yang membikinnya secara tiba-tiba tertawa di
situasi yang tidak tepat.
Arthur Fleck adalah
korban dari lingkungan yang tidak sehat. Dari ayah tiri yang suka memukul dan
ibu dalam kondisi kejiawaan yang tidak stabil. Fakta tentang ibunya berasal dari dokumen yang Joker rampas dari
rumah sakit jiwa. Fakta yang disembunyikan ibunya hampir sepanjang hidup..
Pertama-tama adalah
keluarganya sendiri yang membikinnya sakit. Lalu, lingkungan sosialnya.
Mulanya Joker adalah
korban. Dia pria separuh baya yang miskin, tinggal dengan ibunya, Penny Fleck,
dan kerap menjadi korban perundungan. Mereka hidup di apartemen kumuh. Hiburan
Arthur hanya sebatas menonton televisi acara Murray Franklin. Dia bercita-cita
jadi komedian. Sayangnya, syndrome tertawa
menghalangi dirinya untuk mencapai impian. Dan karena syndrome tertawa itu dia kerap jadi korban perundungan dan dipukuli.
Potensi sakit sakit
jiwa sejak kecil itu akhirnya meledak dan Joker jadi psikopat. Membunuh tiga
orang kaya di dalam kereta. Di fase ini Joker menjadi subjek. Dari obyek kekerasan
mental dan fisik bertranformasi jadi subjek destruktif.
Tiga orang dalam kereta
itu adalah korban pertama Joker. Sebetulnya dia tidak benar-benar berniat
membunuh mereka. Dia hanya sedang melindungi diri karena tiga orang itu
memukulinya. Saat itu, tampak Joker belum menikmati pembunuhan itu.
Sayangnya, pembunuhan
tak sengaja itu dipahami oleh massa tertindas di kota Gotham sebagai tindakan
politis. Kebetulan tiga orang yang Joker
bunuh adalah orang-orang berasal dari kelas sosial elit. Mereka adalah anak buah
dari Thomas Wyne, ayah dari Batman. Salah satu anggota kelas sosial elit di
kota Gotham.
Dari kondisi kejiwaan
Joker yang tak stabil, beralih ke kota Gotham yang ikut jadi tak stabil. Massa
tertindas membikin aksi-aksi yang berujung pada kerusuhan. Massa tertindas memakai
identitas sebagaimana Joker. Merias dirinya serupa badut. Jika normal dan tidak normal ada, maka Gotham adalah tempat
pertarungannya.
Ke-normal-an dipimpin
oleh politisi, aparat, dan puncaknya adalah negara. Sedangkan ke-tidak normal-an dipimpin oleh
Joker. Orang-orang normal merasa terganggu karena mereka percaya Joker dan
massanya berpotensi merusak kestabilan negara. Negara adalah puncak dari
kewarasan yang harus dilindungi. Sedangkan kegilaan adalah chaostic yang merusak tatanan mapan. (*)

No comments:
Post a Comment