Split merupakan salah
satu film trilogi karya M.
Night Shyamalan. Dibandingkan dengan Unbreakable atau Mr. Glass,
bagi saya, Split lebih mengesankan ketimbang dua film lainnya.
Unsur psikologisnya lebih dalam. Terlebih ketika James McAvoy memeran beberapa kepribadian Kevin Wandell Crumb,
dia harus berakting dalam satu film dengan macam-macam karaker. Berganti dari satu kepribadian ke kepribadian yang lain tentu hal ini
tidak mudah.
Kevin Wendell Crumb mengidap gejala
gangguan identitas disosiatif atau kerpibadian majemuk. Dan kepribadiannya
terpecah (split) menjadi 24 pribadi
yang berbeda-beda. Dia bisa berganti-ganti kepribadian layaknya berganti baju.
Masing-masing
kepribadian mempunyai ingatan sendiri, kepercayaan, perilaku, pola pikir, serta
IQ yang berbeda. Ada dua kepribadian yang menonjol, Dennis dan Patricia. Dua
kepribadian ini secara berulang saling bergantian memegang kendali penuh atas tubuh Kevin. Meski secara fisiologis dirinya lahir sebagai
pria, tapi Kavin mempunyai Patricia yang berjenis kelamin perempuan. Selain itu ada
Hedwid kepribadian yang konsisten berumur
sembilan tahun. Anak kecil yang terperangkap dalam tubuh dewasa. Saat James McAvoy memerankan Hedwid hal itu membuat kita bersimpati pada kepolosonnya.
Tubuh Kevin serupa rumah dihuni keluarga besar kepribadian yang diciptakan oleh dirinya sendiri.
Tubuh Kevin serupa rumah dihuni keluarga besar kepribadian yang diciptakan oleh dirinya sendiri.
Masalahnya, ada kepribadian
yang berencana jahat. Film dimulai ketika Dennis menculik tiga gadis. Mereka
disiapkan untuk ritual memanggil The Beast binatang buas dalam diri Kevin. The Beast adalah pribadi paling liar, dan paling kuat, yang
diciptakan Kevin semasa kecil ketika dia kehilangan ayahnya.
Perlu diingiat, setiap
kepribadian Kevin mempunyai nama. Bahkan mereka bisa saling mengobrol. Saya
membayangkan, jika cara kerja gangguan identitas disosiasif atau kepribadian majekmuk seperti yang disimulasikan
dalam Split, betapa melelahkan bagi penderitanya dengan berganti-ganti kepribadian.
Kepribadian yang berencana
jahat dipimpin oleh Dennis dan Patricia. Kelompok kepribadian yang berencana jahat
ini dinamakan The Horde atau
gerombolan. Motifnya adalah semacam keinginan membuktikan pada dunia bahwa di
antara kerumunan manusia, ada manusia yang berbeda.
Meminjam istilah Nietzsche dalam Thus
Spoke Zarathustra, manusia yang berbeda itu adalah manusia super atau Ubermensch.
The Horde dengan memanfaatkan The Beast berusaha mengeliminasi manusia. Dan menyisakan manusia terpilih. Yaitu manusia yang dalam hidupnya dipenuhi penderitaan seperti yang dialami Kevin Wandell Crumb semasa kecil. Dan menjadikan dunia dipenuhi oleh orang-orang super atau Ubermensch. Mereka yang belum pernah merasakan penderitaan bagi The Horde masih suci dan pantasnya dipersembahkan untuk The Beast.
The Horde dengan memanfaatkan The Beast berusaha mengeliminasi manusia. Dan menyisakan manusia terpilih. Yaitu manusia yang dalam hidupnya dipenuhi penderitaan seperti yang dialami Kevin Wandell Crumb semasa kecil. Dan menjadikan dunia dipenuhi oleh orang-orang super atau Ubermensch. Mereka yang belum pernah merasakan penderitaan bagi The Horde masih suci dan pantasnya dipersembahkan untuk The Beast.
Menurut saya, Split
juga berusaha menjelaskan hal-hal supranatural yang dimiliki manusia. Misalnya,
kenapa ada orang yang mampu mememcahkan balok es. Atau memakan pecahan kaca dan
tak melukai dirinya sendiri. Sebetulnya dia tidak benar-benar mempunyai
kekuatan supranatural, melainkan karena dia punya “keyakinan”. Seperti halnya The Beast. Karena “pribadi” Kevin ada yang percaya bahwa The Beast kuat, keyakinan itu benar-benar membikin The Beast menjadi kuat. Dia bisa merangkak di tembok, bergelantungan
di atas atap, atau berlari seperti serigala. Dia adalah Ubermensch sejati.
No comments:
Post a Comment