Malena (Monica Belucci) wanita matang umur 30-an. Dengan postur tubuh yang
benar-benar menakjubkan. Tubuh yang seolah alegori antara dosa dan kenikmatan (pleasure). Alegori tentang paradoks dosa
awal. Saat Adam terjatuh dari surga karena godaan Hawa. Maka sejak itu—tubuh—terutama
tubuh wanita menjadi simbol kejahatan, kebinatangan, dosa, yang benar-benar
harus ditutup atau lebih ekstrim disingkirkan. Maka terukutuklah tubuh Malena
yang, aduhai, menggoda itu.
Saya melihaf film Malena tak jauh
dari perspekstif psikonalisis. Terutama ketika menyadari bahwa film ini
menekankan pada segi sensualitas. Saya teringat tentang konsep libido. Menurut Sigmund Freud libido
merupakan energi psikis yang mendasari segala perilaku manusia sejak keberadaan
manusia di dunia. Libido (id) atau
hasrat mendorong manusia untuk melakukan sesuatu yang berprinsip pada
kenikmatan. Tubuh Malena adalah sumber pleasure
di Kota Sisilia, Italia yang membikin kota itu menjadi bergejolak karena
kekuatannya.
Namun id selalu dibatasi oleh ego yang berprinsip pada realitas.Sedangkan
fase super
ego, id harus berkompromi dengan
aspek sosiologis seperti norma atau nilai sosial. Sehingga id terepresi jauh dalam ketidaksadaraan. Begitulah tubuh Malena, di
sisi lain sangat minati para pria dewasa, sementara di bagian sisi yang lain
terbentur oleh norma sosial yang menganggap bahwa tubuh Malena mendatangkan
malapetaka pada kehidupan rumah tangga. Dan juga memberi pengaruh buruk pada
anak-anak.
Meski demikian selalu ada potensi suatu saat id bakal meledak jauh dari apa yang dibayangkan. Ledekan karena
represi yang berlebihan. Gejolak itu mulai terlihat ketika suami Malena
dikabarkan mati di medan perang. Membikin laki-laki dewasa di desa itu mulai
merasa mendapat kesempatan untuk mendekatinya. Mereka memperhatikan Malena
seperti kucing melihat ikan segar. Seperti serigala menunggu buruannya lengah. Tak
terkecuali para bocah laki-laki akil balig.
Saat itu penduduk kota Sisilia sedang berkumpul di piazza untuk mendengar siaran radio deklarasi perang Mussolini
melawan Prancis dan Inggris. Sementara Renato muda (Giuseppe Sulfari) dengan
gila-gilaan bersepeda ke tebing laut untuk bertemu teman-temannya. Pada saat
itulah, dia melihat sekilas Malena yang sebetulnya adalah putri guru bahasa
latin yang tuli. Renato mulai mengikutinya ke mana-mana, bahkan mengintip dari
lubang kunci sambil onani.
Di antara teman-temannya Renato adalah anak bawang karena masih memakai
celana pendek. Lalu mereka mulai mem-bully
Renato. Mereka mengajaknya untuk membandingkan ukuran penis dengan lugu. Pencarian
jati diri seorang bocah laki-laki yang naïf. Kemudia Renato bakal menjadi
protagonis kedua yang bakal menegaskan Malena. Tampak Renato bocah naïf
pubertas yang mulai menyadari tubuhnya sekligus tubuh lawan jenisnya terutama
Malena.
Alur terpecah menjadi dua. Antara kehidupan Malena dan Renato. Saat Renato
sering berfantasi tentang persetubuhannya dengan Malena, Malena sendiri sedang
menghadapi hidup susah sejak ditinggalkan mati suaminya. Pada momen ini,
akhirnya Malena menggadaikan tubuhnya pada para pejabat di kota itu demi bisa
bertahan hidup. Termasuk pengacara yang telah membelanya ketika seorang dokter
wanita mefitnah Malena karena merusak rumah tangganya.
Yang paling dramatis adalah ketika tentara
Amerika datang untuk membebaskan kota, sedangkan tentara Jerman (pendukung
fasis Mussolini) pemakai jasa Malena harus terusir dari kota. Malena secara
mengenaskan diseret ke piazza dan
dipukuli oleh gerombolan massa yang mengamuk. Mereka memotong rambutnya. Pada
akhirnya, Malena terusir dari kota itu seperti ketika Adam terusir dari surga.
Di antara semua warga yang merasa suci itu, ada Renato yang terus mengagumi
Malena.
No comments:
Post a Comment