22 October 2019

Terkutuklah Malena!


Malena (Monica Belucci) wanita matang umur 30-an. Dengan postur tubuh yang benar-benar menakjubkan. Tubuh yang seolah alegori antara dosa dan kenikmatan (pleasure). Alegori tentang paradoks dosa awal. Saat Adam terjatuh dari surga karena godaan Hawa. Maka sejak itu—tubuh—terutama tubuh wanita menjadi simbol kejahatan, kebinatangan, dosa, yang benar-benar harus ditutup atau lebih ekstrim disingkirkan. Maka terukutuklah tubuh Malena yang, aduhai, menggoda itu.

Gambar terkaitSaya melihaf film Malena tak jauh dari perspekstif psikonalisis. Terutama ketika menyadari bahwa film ini menekankan pada segi sensualitas. Saya teringat tentang konsep libido. Menurut Sigmund Freud libido merupakan energi psikis yang mendasari segala perilaku manusia sejak keberadaan manusia di dunia. Libido (id) atau hasrat mendorong manusia untuk melakukan sesuatu yang berprinsip pada kenikmatan. Tubuh Malena adalah sumber pleasure di Kota Sisilia, Italia yang membikin kota itu menjadi bergejolak karena kekuatannya.

Namun id selalu dibatasi oleh ego yang berprinsip pada realitas.Sedangkan  fase super ego, id harus berkompromi dengan aspek sosiologis seperti norma atau nilai sosial. Sehingga id terepresi jauh dalam ketidaksadaraan. Begitulah tubuh Malena, di sisi lain sangat minati para pria dewasa, sementara di bagian sisi yang lain terbentur oleh norma sosial yang menganggap bahwa tubuh Malena mendatangkan malapetaka pada kehidupan rumah tangga. Dan juga memberi pengaruh buruk pada anak-anak.

Meski demikian selalu ada potensi suatu saat id bakal meledak jauh dari apa yang dibayangkan. Ledekan karena represi yang berlebihan. Gejolak itu mulai terlihat ketika suami Malena dikabarkan mati di medan perang. Membikin laki-laki dewasa di desa itu mulai merasa mendapat kesempatan untuk mendekatinya. Mereka memperhatikan Malena seperti kucing melihat ikan segar. Seperti serigala menunggu buruannya lengah. Tak terkecuali para bocah laki-laki akil balig.

Saat itu penduduk kota Sisilia sedang berkumpul di piazza untuk mendengar siaran radio deklarasi perang Mussolini melawan Prancis dan Inggris. Sementara Renato muda (Giuseppe Sulfari) dengan gila-gilaan bersepeda ke tebing laut untuk bertemu teman-temannya. Pada saat itulah, dia melihat sekilas Malena yang sebetulnya adalah putri guru bahasa latin yang tuli. Renato mulai mengikutinya ke mana-mana, bahkan mengintip dari lubang kunci sambil onani.

Di antara teman-temannya Renato adalah anak bawang karena masih memakai celana pendek. Lalu mereka mulai mem-bully Renato. Mereka mengajaknya untuk membandingkan ukuran penis dengan lugu. Pencarian jati diri seorang bocah laki-laki yang naïf. Kemudia Renato bakal menjadi protagonis kedua yang bakal menegaskan Malena. Tampak Renato bocah naïf pubertas yang mulai menyadari tubuhnya sekligus tubuh lawan jenisnya terutama Malena.

Alur terpecah menjadi dua. Antara kehidupan Malena dan Renato. Saat Renato sering berfantasi tentang persetubuhannya dengan Malena, Malena sendiri sedang menghadapi hidup susah sejak ditinggalkan mati suaminya. Pada momen ini, akhirnya Malena menggadaikan tubuhnya pada para pejabat di kota itu demi bisa bertahan hidup. Termasuk pengacara yang telah membelanya ketika seorang dokter wanita mefitnah Malena karena merusak rumah tangganya.

Yang paling dramatis adalah ketika tentara Amerika datang untuk membebaskan kota, sedangkan tentara Jerman (pendukung fasis Mussolini) pemakai jasa Malena harus terusir dari kota. Malena secara mengenaskan diseret ke piazza dan dipukuli oleh gerombolan massa yang mengamuk. Mereka memotong rambutnya. Pada akhirnya, Malena terusir dari kota itu seperti ketika Adam terusir dari surga. Di antara semua warga yang merasa suci itu, ada Renato yang terus mengagumi Malena.




No comments:

Post a Comment