7 May 2020
4 January 2020
Kepada L (2)
![]() |
| Ilustrasi: Nuhan Kafabih |
Kakekmu pernah bercerita ada yang
dimanakan jagad kecil dan jagad besar. Jagad kecil, itulah yang di dalam. Tubuh
material kita sangat terbatas sehingga mudah terbentur dinding di sana-sini.
Tapi yang di dalam, kita tak pernah bisa mengontrol.
Aku jadi ingat, terakhir membaca
buku adalah buku terbitan lama yang kau berikan kepadaku: syair panjang Nizami,
Laela Majnun. Katamu buku itu milik almarhum kakekmu, ia yang suka menulis di
tengah malam ditemani cahaya lilin. Ia yang berdansa waltz bersama nenekmu. Ia
yang mengingatkanmu membaca Qurqan di keheningan
malam sesaat sebelum kau tidur.
Lalu buku itu kubaca hari demi hari
tak ingin cepat kuselesaikan. Kisah dari masa lalu yang jauh tentang Qais
dengan kegilaannya, dan Laela dengan kematiannya yang tragis. Mereka seolah
menegaskan bahwa manusia adalah makhluk paling rumit menjalani hidup.
Begitu pula dengan film kesukaanmu, Titanic.
Kisah antara Jack dan Rose. Jack pemuda sinting yang menang judi dan mendapat
tiket kelas tiga untuk berlayar dari Southampton menuju New York. Singkat
cerita di kapal itu Jack bertemu dengan Rose dan membebaskannya dari Duke yang
angkuh.
Sekejap saja cinta tumbuh di hati
mereka. Sayagnya kebahagiaan di antara mereka cuma seumur perjalanan Titanic yang
tak pernah sampai tujuan karena terjebak badai salju yang bikin Jack mati.
Sementara Rose yang selamat dari badai salju melanjutkan derita cinta.
“Jika cinta itu ada, maka seperti
itulah bentuknya,” katamu sesaat setelah bercerita tentang dua kisah yang kau
sukai itu. Tapi, aku tak pernah tahu, yang mana yang kau maksud “seperti itu
bentuknya” untuk menggambarkan bahwa cinta memang harus tampak demikian. Syair
panjang Laela Majnun? Atau kisah Jack dan Rose?
Yang kutahu kedua kisah itu tentang
kehilangan. Apa kita harus kehilangan untuk tahu bentuk cinta? Tentu tidak,
kita tak perlu kehilangan untuk merasakan cinta. Bagiku cinta bukan soal
kepemilikan. Sebab kita tak pernah memiliki apa-apa. Mereka yang tak memiliki
apa-apa tak akan kehilangan apa-apa.
Kecuali hidup, cuma itulah yang kita
punya, dan itu yang harus kita rawat. Mencintai hidup bagaikan Nietzche dengan Amor fati-nya. Jika hidup itu laut, maka
kita pelaut di tengah lautan lepas, kita hanya berlayar dan terus berlayat, tak
ada pelabuhan untuk berlabuh. Jika hidup itu bagaikan burung, maka kita burung
yang tak punya kaki, kita hanya terbang dan terbang, tak ada tempat untuk hinggap.
Seperti petikan puisi Chairil Anwar, “Mari
kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati, terbang, mengenali gurun,
sonder ketemu, sonder mendarat.”
Atau mencintai hidup seperti petikan
puisi Alfred Tennyeson, “brief is life,
but love is long”. Tapi cinta itu apa? Anggap saja cinta adalah ombak yang tak
putus-putus. Kita tak pernah bisa mengendalikan ombak, karena ombak punya
pikirannya sendiri.
Jadi apa kabar kau yang di Padang
Tikar? Apa kau juga ingat tentang kisah Sjahrir dari buku yang kita pinjam di
perpustakaan kampus itu, bahwa dahulu Sjahrir dibuang di Banda Naera. Lalu ia
mengajar anak-anak. Mengajak mereka bermain di pantai. Mengajak mereka untuk mengejar
ombak. Dan untuk sesaat ia bisa melupakan Indonesia. Ia menyerap keceriaan
mereka, sementara mereka menyerap pengetahuan. Seperti yang ia tulis dalam
sepucuk surat bertanggal 25 Februari 1936, “Mereka… adalah teman terbaik yang
saya miliki.”
Ilustrasi oleh Nuhan Kafabih lahir di Trenggalek 31 Mei 1997. Kini dia bermukim di belantara Malang. Untuk melihat karya-karyanya yang lain bisa kunjungi akun instragram @hannuhan.
Ilustrasi oleh Nuhan Kafabih lahir di Trenggalek 31 Mei 1997. Kini dia bermukim di belantara Malang. Untuk melihat karya-karyanya yang lain bisa kunjungi akun instragram @hannuhan.
24 November 2019
Dani, dan Sabda Jalan Pulang
Dani Saputra, saya mengenal Dani sebagai teman
satu kelas dan sahabat. Pernah tinggal di rumah kontrakkan yang sama. Berserta
teman lainnya, seperti, Huda, Humam, Nawir dan Maliki (sekarang barangkali
Maliki sudah pulang ke Pati).
Rumah di tengah-tengah kampung Ponorogo.
Mengingatkan saya dengan ladang Jati di depan halaman. Tak luas. Tapi
rerimbunannya cukup menyejukkan. Kini ladang Jati itu tinggal tanah dan bonggol
Jati karena sudah ditebang pemiliknya. Mengingatkan saya dengan berlukar
rerumputan di sekitar rumah sebelum kami tinggali. Bahkan setelah kami tinggali
kadang-kadang masih ada ular keluar-masuk rumah. Mengingatkan pada sawah di
selatan rumah kontrakkan dan tak jauh dari sawah berdiri Ponorogo City Center
yang baru dibangun.
Pernah Dani dan Humam membawa kembang Wijaya
Kusuma ke rumah kontrakkan. Ditaruh di samping kamar saya. Ada kepercayaan jika
melihat kembang itu mekar doa yang melihat bakal dikabulkan Tuhan. Kami
menyaksikan bunga itu mekar. Saya lupa doa apa yang saya penjatkan. Soalnya,
saya sudah lama tidak berdoa. Kecuali doa yang saya panjatkan untuk kedua
orangtua. Saya pun tak tahu apa yang didoakan Dani dan teman-teman lain. Kini
masing-masing dari mereka, sudah punya karya. Dani dengan novel-novelnya yang terbit
silih berganti. Huda dengan chanel Youtube-nya yang ramai, Lincung Studio.
Di rumah kontrakkan itu, saya sedikit mengenal
Dani. Mengenal ketekunannya merajut tulisan. Dan ketekuannya dalam membaca
buku. Membaca Soe Hoek Gie, hingga Putu Wijaya. Saya pernah diberi soft file tulisannya
berupa cerita pendek. Saat itu, Dani sedang gemar-gemarnya membaca salah satu
bukunya Putu Wijaya.
Beberapa bulan yang lalu, kira-kira bulan Mei, ia
memberi kabar ingin menerbitkan novel. Dani memberi kepercayaan kepada saya
buat mengedit novelnya. Saya diberi waktu selama satu bulan. Tentu hasilnya
jauh dari sempurna. Karena itu saya memohon maaf . Dan untuk mengapresiasi
terbitnya Sabda
Jalan Pulang, sebagai sahabat baik, dan sebagai ucapan terimakasih karena
sudah dikirimi novelnya, saya akan mengulasnya.
Sabda Jalan Pulang
Seperti halnya rumah kontrakkan kami yang berada
di lingkungan pedesaan, novel ini juga mengangkat latar sosial tentang
masyarakat pedesaan. Dengan cara hidup mereka yang monokultur. Cara hidup
seperti itu, berbeda dengan kehidupan modern yang akarnya adalah kapitalisme.
Modal adalah napas utama kehidupan modern. Sedangkan cara hidup pedesaan
bekakar dari tradisi, dan akar tradisi itu mengambil nilai-nilai dari alam. Sehingga cara hidup seperti itu menciptakan harmonisasi antara manusia dan alam.
Sabda tokoh utama dari novel ini lahir di tengah
pedesaan yang sedang mengalami keguncangan. Sejak kecil Sabda sudah banyak
mempertanyakan banyak hal. Seperti misalnya tentang asal-usul kehidupan.
Pencarian jati diri itu mempertemukannya dengan burung merpati bernama Kukila.
Burung yang bisa berbicara. Bahkan memberikan nasehat pada Sabda. Misalnya
seperti kutipan panjang dari halaman 66 ini:
Manusia tidur, tetapi
dia harus bangun dengan cara yang benar. Berikut ini adalah kisah si
tolol yang bangunnya keliru. Si tolol datang ke sebuah kota yang besar, dan dia
menjadi bingung oleh banyaknya orang di jalanan. Dia khawatir kalau nanti
terbangun dari tidur tidak bisa lagi menemukan dirinya di antara begitu
banyaknya manusia. Karena itu dia pun mengikatkan seutas tali di mata kaki agar
dirinya mudah dikenali kembali. Seorang yang suka bercanda, mengetahui apa yang
dikerjakan si tolol, lalu menanti sampai tidur. Dilepaskannya tali yang
mengikat kaki si tolol lalu diikatkan ke kakinya sendiri. Dia pun berbaring di
lantai dan tidur. Si tolol bangun lebih dahulu, dilihatnya tali itu. Mula-mula
dikira orang lain itulah dirinya sendiri. Kemudian dia menyerang orang itu,
sambil berteriak, kalau kamu itu diriku, lalu siapa dan mana pula aku?
Maka tak heran meski sebagai anak desa yang tak
sekolah, ketika modernitas mulai masuk ke desanya, ia meresponnya dengan
kritis. Misalnya saat perusahaan tambang berencana menambang emas di desanya.
Banyak dari warga menggadaikan tanahnya. Kecuali keluarga Sabda. Keluarga
Sabda bersikukuh menolak menggadaikan tanahnya. Akibatnya bapak Sabda yang
bernama Slamet harus dipenjara.
Pada akhirnya Sabda kalah. Bapaknya dipenjara dan
tak pernah kembali dari penjara. Lalu seperti sudah menjadi takdrinya, Sabda
menempuh perjalanan. Perjalannya merupakan pencarian jati diri.
Hingga ia bertemu dengan Raharjo penjual cendol di tengah kota.
Raharjo ternyata murid bapaknya. Dari Raharjo, ia
mendapat informasi tentang keluarganya. Bahkan ia hampir menikahi anaknya yang
bernama Titi. Tapi sayang, seperti berkali-kali dikatakan oleh Kukila, bahwa
dia adalah keturunan terkahir, ia tak sempat menikahi Titi. Ia meninggal di
tengah perjalanannya mencari jati diri.
Perlawanan Sabda terhadap tambang emas, merukapan
perlawanan yang berakar dari cara hidup tradisional terhadap keserakahan. Tradisi mengajarkan tentang cara hidup sama rata, tidak ada yang lebih kaya,
dan yang lebih miskin. Berbeda dengan morderintas yang memakmurkan sebagian
kecil yang punya modal.
Tambang emas di desa Sabda berdampak pada tranformasi cara hidup masyarakatnya. Dari bercocok tanam, menjadi bergantung ke tambang emas. Akibatnya orang-orang di desa menjadi buruh. Menjadi buruh tidak membuat mereka sejahtera. Mereka tidak bisa menghidupi dirinya sendiri kecuali mereka menadapat bayaran setelah bekerja di tambang emas. Sebetulnya kekalahan Sabda adalah kekalahan warga desa. Sayangnya mereka tidak menyadari.
Tambang emas di desa Sabda berdampak pada tranformasi cara hidup masyarakatnya. Dari bercocok tanam, menjadi bergantung ke tambang emas. Akibatnya orang-orang di desa menjadi buruh. Menjadi buruh tidak membuat mereka sejahtera. Mereka tidak bisa menghidupi dirinya sendiri kecuali mereka menadapat bayaran setelah bekerja di tambang emas. Sebetulnya kekalahan Sabda adalah kekalahan warga desa. Sayangnya mereka tidak menyadari.
15 November 2019
Kepada L (1)
Andai kau di sini, aku ingin berbagi keluh kesah tentang
hidup dan pengertiannya yang rumit. Napasku makin sesak dari hari ke hari, menghirup
polusi dari mesin industri. Gerakku makin susah, ruang terasa makin sempit,
terbentur dinding di sana-sini. Terlalu banyak polusi, terlalu banyak dinding
yang membatasi kita. Apa aku sanggup melewati hari-hari keras tanpa
kehadiranmu?
Merokok dalam kesendirian, tak
seekor kucing pun menemani. Membeli L.A
Lights di warung sebelah. Melihat orang-orang datang dan pergi. Berangkat
ke kantor, pulang dari pabrik. Dan sebagian kecil orang yang kita kenal sebagai
tokoh politik sedang rapat dalam ruang birokrasi dan berusaha mengatur ruang privasi.
Politik menjadi terlalu kejam dan jadi alat kepentingan sebagian kecil orang.
Apa kau sanggup melewati hari-hari keras tanpa kehadiranku?
Kita pernah bertemu di Jl. Pramuka,
kulihat wajahmu memar lelah digebuki malam, dikejar deadline skripsi, katamu. Kau sedang mengerjakan skripsi tentang
bahasa. Aku ingin mengajakmu ke pantai, agar sedikit terobati lelahmu. Dan
kubelikan kembang paling cantik. Menghargai keperempuanmu. Dan sekejap kita
menikmati hidup ini karena hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya.
Tapi, sekejap kemudian kita memikirkan bagaimana hidup ideal. Hidup ideal tanpa
dijerat urusan material. “Apa ada kehidupan yang seperti itu?” tanyamu.
Jika ada kehidupan ideal, pastilah kita
tak perlu pura-pura peduli pada penderitaan orang lain. Karena pada masa itu,
kehidupan telah menjadi setara. Tak
seperti dahulu kala, tak seperti Gadis
Pantai Pramoedya yang selalu
merendah dan menurut pada Bendoro Bupati
Blora. Perempuan dan laki-laki adalah kembang dunia dengan warna-warni yang
unik, saling melengkapi, bukan saling menindas. Begitu pula kehidupan bersama
di atas bumi, punya tanggung jawab yang
sama, punya hak yang sama. Tapi sayang, kehidupan ideal cuma bisa kita temukan
di buku, belum untuk hari ini, tapi besok, kita tak pernah tahu.
Di Rumah Makan Bening, kita pernah
bicara soal masa depan anak-anak, bagaimana jika mereka tinggal di lingkungan tak sehat,
karena desa sudah tak ramah lagi, dan kota menjadi belantara. Apa kita bisa
betanggung jawab atas kehidupan mereka, atau kita tak perlu punya anak. Karena
tugas orangtua lebih berat lagi.
Membesarkan anak-anak, bukan cuma biologis, tapi juga mental dan
spiritualitasnya agar jadi manusia yang purna. Tapi, apa kita sanggup? Sedangkan
kita terus terombang-ambing dalam
keadaan yang tak jelas.
Kukira kita akan terus bersama-sama sepanjang waktu tak ada The most loneliest day of my life... seperti dalam lirik Lonely Day System of a Down. Tapi, suatu pagi aku mendengar kabar bahwa kau sudah tak di kota ini lagi. Kau meninggalkanku. Aku bersyukur, sekaligus berduka, bersyukur karena urusan beratmu telah selesai, berduka karena kau meninggalkanku, dan kau kembali ke kampung halaman. Setelah itu, katamu, kau ingin mendidik anak-anak di kampung halamanm. Dan sesekali mempertanyakan tentang makna hidup ini dengan pengertiannya yang rumit.
Kukira kita akan terus bersama-sama sepanjang waktu tak ada The most loneliest day of my life... seperti dalam lirik Lonely Day System of a Down. Tapi, suatu pagi aku mendengar kabar bahwa kau sudah tak di kota ini lagi. Kau meninggalkanku. Aku bersyukur, sekaligus berduka, bersyukur karena urusan beratmu telah selesai, berduka karena kau meninggalkanku, dan kau kembali ke kampung halaman. Setelah itu, katamu, kau ingin mendidik anak-anak di kampung halamanm. Dan sesekali mempertanyakan tentang makna hidup ini dengan pengertiannya yang rumit.
Sedangkan aku, membusuk di kota ini.
Kepalaku jadi miring, dikerjai dosen dan birokrasi kampus yang rumit. Aku
sempat berpikir untuk meninggalkan urusan membosankan ini, dan mengejarmu ke
kampung halaman. Tapi kuurungkan niat itu, karena setiap hubungan yang sehat,
selalu ada ujian, dan ujian kita adalah jarak.
Seminggu setelah kau pulang ke
kampung halaman, aku pergi ke pantai sendirian tanpa mengabarimu, untuk
menghibur diri sendiri. Aku melihat ombak. Ombak yang keras. Berkali-kali ombak
membentur batu karang. Terus… dan terus. Aku ingat suatu hari, saat kita makan
Soto Borang, kau mengatakan, “perasaan adalah gelombang naik dan turun. Tak
pernah stabil.”
Kupikir ombak di pantai itu adalah
perasaan kita. Kita bisa mendengar gemuruhnya. Dan saat ombak itu, menyatu,
teguh, tertuju pada satu hal, akan menjadi energi yang besar. Apa yang kita harapkan dari energi
yang besar, satu-satunya yang kita inginkan adalah menghancurkan dinding.
Menghancurkan apa pun yang menghalangi langkah kita.
Kau pernah sekali memberi kabar
sejak kepulanganmu. Katamu hari-hari menjadi sepi. Terlebih saat mendengar Wish You Were Here Pink Floyd kau merasa
hidup sendiri. Terasing dari dunia ini. “Atau aku yang sedang mengasingkan
diri,” katamu, “aku merasa aku sedang melawan dunia. Atau dunia yang
melawanku?”
Dunia yang mengasingkan kita, atau
kita yang diasingkan oleh dunia, tak penting lagi bagiku, asal kita selalu
bersama-sama. Jarak tak akan membuat perasaan kita berubah.
Dan saat kita bersama, kita sedang mengumpulkan
energi seperti ombak di pantai. Terus, dan terus… melawan tembok yang
mengahalangi kita. Dan tembok itu pada akhirnya sedikit demi sedikit, meski
perlu melewati puluhan generasi, tembok itu pasti hancur. Dan kita berbagi dunia bersama-sama. Seperti
lirik akhir, Imagine John Lennon, Sharing all the world… and the world live as
one.
Andai kau di sini… tapi kau ada di
sana di suatu tempat yang jauh. Jarak memisahkan kita. Satu-satunya yang
kuharap dari dirimu adalah perasaan dan api cinta yang menyala dan gelombang perasaan bagaikan ombak.
Kusharap, begitu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
